Selasa, 01 Desember 2015
sensori persepsi kelainan pada mata
TUGAS SENSORI PERSEPSI
“KELAINAN PENGLIHATAN DAN TELINGA “
LARAS AYU NINGTIAS
I1031131062
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN
1. Proses Terjadinya Kelainan Pada Mata
a. Hipermetropi
Hipermetropi adalah kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang berasal dari tak berhingga memasuki mata difokuskan dibelakang retina. Dikatakan juga mata kekurangan kekuatan 1+; plus . Hal ini dapat disebabkan oleh axial length mata lebih pendek dari normal, sehingga mata tidak cukup mempunyai kekuatan plus untuk memfokuskan bayangan di retina.(1)
Hipermetropia merupakan keadaan gangguan kekuatan pembiasan mata dimana sinar sejajar jauh tidak cukup dibiaskan sehingga titik fokusnya terletak di belakang makula retina. Pada hipermetropi sinar sejajar difokuskan dibelakang macula lutea. ( Ilyas, 2012)
Penyebab utama hipermetropia adalah panjangnya bola mata yang lebih pendek. Akibat bola mata yang lebih pendek, bayangan benda akan difokuskan di belakang retina.
Diameter anterior posterior bola mata yang lebih pendek, kurvatura kornea dan lensa yang lebih lemah, dan perubahan indeks refraktif menyebabkan sinar sejajar yang datang dari objek terletak jauh tak terhingga di biaskan di belakang retina.
Hipermetropi dapat disebabkan:
a. Hipermetropi sumbu atau hipermetropi aksial merupakan kelainan refraksi akibat bola mata pendek atau sumbu anteroposterior yang pendek.
b. Hipermetropi kurvatur dimana lengkungan kornea atau lensa kurang sehingga banyangan difokuskan dibelakang retina
c. Hipermetropi rekaktif dimana terdapat indeks bias yang kurang pada system optic mata.
Hipermetropi dikenal dalam bentuk :
- Hipermetropi manifest yaitu hipermetropi yang dapat dikoreksidengan kacamata positif maksimal yang memberikan tajam penglihatan normal. Hipermetropi manifest didapatkan Tanpa skiloplegik dan hipermetropi yang dapat dilihat dengan kacamata maksimal.
- Hipermetropi absolute kelainan refraksi tidak diimbangi dengan akomodasi dan memerlukan kacamata positif untuk melihat jauh.
- Hipermetropi fakutatif , dimana kelainan hipermetropi dapatdiimbangi dengan akomodasi ataupun dengan kacamata positif. Pasien yang hanya mempunyai hipermetropi fakultatif akan melihat normal tanpa kacamata posotif
- Hipermetropi laten , kelainan tanpa sikplegia diimbangi seluruh dengan akomodasi . dapat diukur bila diberikan siklopegia. Makin muda makin besar komponen hipernetropi laten seseorang. Makin tua seseorang akan terjadi kelemahan akomodasi sehingga akan menjadi hipermetropi absolute.
- Hipermetropi total , hipermetropi yang ukurannya didapatkan sesudah diberikan siklopegia.
Mata dengan hipermetropia sering akan memperlihatkan ambliopiis akibat mata tanpa akomodasi tidak [ernah meliht obyek dengan baik daan jelas. Bila terjadi ammbliopia pada salah satu mata. Mata ambliopia sering menggulir kea rah temporal.
Pengobatan hipermetropi adalah diberikan koreksi hipermetropi manifest dimana tanpa sikloplegia didapatkan ukuran lensa positif maksimal yang emberikan tajaman penglihatan normal.
Secara klinis, hipermetropia terbagi dalam 3 kategori (AOA, 2008)
a. Simple hyperopia, karena variasi normal biologis, bisa disebabkan oleh panjang sumbu aksial mata ataupun karena refraksi.
b. Pathological hyperopia, disebabkan anatomi mata yang abnormal karena gagal kembang, penyakit mata, atau karena trauma.
c. Functional hyperopia adalah akibat dari paralisis akomodasi.
Pada mata dengan miopia tinggi akan terdapat kelainan pada fundus okuli seperti degenerasi makula, degenerasi retina bagian perifer, dengan miopik kresen pada papil saraf optik (Ilyas,2012).
Pengobatan pasien dengan miopia adalah dengan memberikan kacamata sferis negatif terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan maksimal (Ilyas,2012).
Pasien dengan miopia akan menyatakan melihat lebih jelas bila dekat bahkan terlalu dekat, sedangkan melihat jauh kabur (rabun jauh). Seseorang dengan miopia mempunyai kebiasaan mengerinyitkan matanya untuk mencegah aberasi sferis atau mendapatkan efek pinhole (lubang kecil) (Ilyas, 2012). Pasien miopia jarang merasakan sakit kepala. Kadang-kadang terlihat bakat untuk menjadi juling (Ilyas, 2012). Hal ini dikarenakan pasien miopia mempunyi pungtum remotum yang dekat sehingga mata selalu dalam atau keadaan konvergensi yang akan menimbulkan keluhan astenopia konvergensi. Bila Bila terdapat perbedaan kekuatan hipermetropia antara kedua mata, maka akan terjadi ambliopia pada salah satu mata. Mata ambliopia sering menggulir ke arah temporal (Ilyas, 2012).
Pasien muda dengan hipermetropia tidak akan memberikan keluhan karena matanya masih mampu melakukan akomodasi kuat untuk melihat benda dengan jelas. Pada pasien yang banyak membaca atau mempergunakan matanya, terutama pada usia yang lanjut, akan memberikan keluhan kelelahan setelah membaca. Keluhan tersebut berupa sakit kepala, mata terasa pedas dan tertekan (Ilyas, 2012).
Keluhan mata yang harus berakomodasi terus untuk dapat melihat jelas adalah mata lelah, sakit kepala, dan penglihatan kabur bila melihat dekat kedudukan mata ini menetap, maka penderita akan terlihat juling ke dalam atau esotropia (Ilyas, 2012).
Pada pemeriksaan funduskopi terdapat miopik kresen, yaitu gambaran bulan sabit yang terlihat pada polus posterior fundus mata miopia, yang terdapat pada daerah papil saraf optik akibat tidak tertutupnya sklera oleh koroid
Patofisiologi hipermetropi
b. Miopi
Pada myopia panjang bol mata anteroposterior dapat terlalu besar atau kekuatan pembiasan media refraksi terlalu kuat. Dikenal beberapa bentuk myopia seperti:
- Myopia Retraktif , bertambah nya indeks bias media penglihatan seperti terjadi pada katarak intumesen diamna lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat. Sama dengan myopia bias atau myopia indeks, myopia yang tterjadi akibat pembiasan media penglihatan kornea dan lensa yang terlalu kuat.
- Myopia aksial , myopia akibat panjangnya sumbu bola mata dengan kelengkungan kornea dan lensa yang normal.
Menurut perjalanan nya miopi dikenal dengan :
- Miopi stasioner , miopi yang menetap setelah dewasa
- Miopi progresif , miopi yang beertambah terus pada usia dewasa akibat bertambah panjang bola mata (Ilyas, 2012)
Miopia timbul akibat gangguan pada regulasi pertumbuhan mata. Gangguan regulasi dapat bersifat herediter, yang biasanya mengakibatkan miopia onset muda (usia kurang dari 20 tahun), atau merupakan pengaruh lingkungan, yang biasanya mengakibatkan miopia onset dewasa (usia 20 tahun ke atas). Lingkungan yang mempengaruhi regulasi pertumbuhan mata antara lain adalah nearwork kerja jarak dekat (Fredrick DR, 2002).
Beberapa penelitian telah melaporkan prevalensi miopia yang tinggi di kalangan pekerja dengan jenis pekerjaan jarak dekat antara lain penelitian oleh (Simensen et al,1994) dan( McBrien et al.1997)
Prevalensi miopia yang ditemukan pada penelitian ini (12,6%) berbeda dengan prevalensi miopia pada kerja jarak dekat yang lain. Pada kerja jarak dekat membaca di kalangan mahasiswa, prevalensi miopia ditemukan sebesar 66%, pada pekerja dengan mikroskop prevalensi miopia ditemukan sebesar 33% sedangkan pada operator komputer prevalensi miopia sebesar 79%.
Menurut analisis bivariat, kerja jarak dekat (jarak merupakan faktor risiko miopia pada penjahit sepatu. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari US National Academy of Sciences yang menyatakan bahwa mengerjakan kerja jarak dekat menempatkan seseorang pada risiko myopia(Goss DA,.2000)
Didapatkan prevalensi miopia 12,6%. Sebagian besar responden mempunyai tingkat pengetahuan yang kurang mengenai higiene visual. Kerja jarak dekat berhubungan dengan miopia, sedangkan faktor-faktor lain (usia, lama pendidikan, masa kerja, aktivitas jarak dekat lain, dan iluminasi) tidak berhubungan bermakna dengan miopia.(NurKasih indah , et al. 2004)
c. Astigmatis
Astigmatisme adalah suatu keadaan dimana sinar yang sejajar tidak dibiaskan dengan kekuatan yang sama pada seluruh bidang pembiasan sehingga fokus pada retina tidak pada satu titik .Umumnya setiap orang memiliki astigmatisme ringan (Ilyas,2012) Astigmatisme merupakan akibat bentuk kornea yang oval seperti telur, makin lonjong bentuk kornea makin tinggi astigmatisme mata tersebut. Astigmatisme biasanya bersifat diturunkan atau terjadi sejak lahir. Astigmatisme biasanya berjalan bersama dengan miopia dan hipermetropia dan tidak banyak terjadi perubahan selama hidup (Ilyas, 2012).
Pada usia pertengahan, kornea menjadi lebih sferis kembali sehingga astigmatisme menjadi astigmatism against the rule (astigmatisme tidak lazim)
Adanya kelainan kornea dimana permukaan luar korneatidak teratur. Media refrakta yang memiliki kesalahan pembiasan yang paling besar adalah kornea, yaitu mencapai 80% sd 90% dari astigmatismus, sedangkan media lainya adalah lensa kristalin. Kesalahan pemiasan pada kornea ini terjadi karena perubahan lengkung kornea dengan tanpa pemendekan atau peanjangan diameter anterior posterior bola mata.
Astigmatisme juga dapat terjadi akibat jaringan parut pada kornea atau setelah pembedahan mata. Jahitan yang terlalu kuat pada bedah mata dapat mengakibatkan perubahan pada permukaan kornea. Bila dilakukan pengencangan dan pengenduran jahitan pada kornea maka dapat terjadi astigmatisme akibat terjadi perubahan kelengkungan kornea.
Ada beberapa bentuk Astigmatisme :
- Astigmatisme regular adalah suatu keadaan refraksi dimana terdapat dua kekuatan pembiasan yang saling tegak lurus pada sistem pembiasan mata. Hal ini diakibatkan kornea yang mempunyai daya bias berbeda-beda pada berbagai meridian permukannya. Astigmatisme ini memperlihatkan kekuatan pembiasan bertambah atau berkurang perlahan-lahan secara teratur dari satu meridian ke meridian berikutnya. Bayangan yang terjadi pada astigmatisme regular dengan bentuk teratur dapat berbentuk garis, lonjong, atau lingkaran.
- Astigmatisme iregular yaitu astigmatisme yang terjadi tidak mempunyai 2 meridian saling tegak lurus. Astigmatisme ireguler dapat terjadi akibat kelengkungan kornea pada meridian yang sama berbeda sehingga bayangan menjadi iregular. Astigmatisme iregular terjadi akibat infeksi kornea, trauma dan distrofi, atau akibat kelainan pembiasan pada meridian lensa yang berbeda.
- Astigmatisme lazim (astigmat with the rule) adalah suatu keadaan kelainan refraksi astigmatisme regular dimana koreksi dengan silinder negatif dengan sumbu horizontal (45-90 derajat). Keadaan ini lazim didapatkan pada anak atau orang muda akibat perkembangan normal dari serabut-serabut kornea.
d. Presbiopi
Presbiopi merupakan kondisi mata dimana lensa kristalin kehilangan fleksibilitasnya sehingga membuatnya tidak dapat fokus pada benda yang dekat. Presbiopi adalah suatu bentuk gangguan refraksi, dimana makin berkurangnya kemampuan akomodasi mata sesuai dengan makin meningkatnya umur. Presbiopi merupakan bagian alami dari penuaan mata. Presbiopi ini bukan merupakan penyakit dan tidak dapat dicegah. Presbiopi atau mata tua yang disebabkan karena daya akomodasi lensa mata tidak bekerja dengan baik akibatnya lensa mata tidak dapat memfokuskan cahaya ke titik kuning dengan tepat sehingga mata tidak bisa melihat yang dekat. Presbiopi adalah suatu bentuk gangguan refraksi, dimana makin berkurangnya kemampuan akomodasi mata sesuai dengan makin meningkatnya umur.(4)
Presbiopia yaitu hilangnya daya akomodasi yang terjadi bersamaan dengan proses penuaan pada semua orang. Seseorang dengan mata emetropik (tanpa kesalahan refraksi) akan mulai merasakan ketidakmampuan membaca huruf kecil atau membedakan benda-benda kecil yang terletak berdekatan pada usia sekitar 44-46 tahun. Hal ini semakin buruk pada cahaya yang temaram dan biasanya lebih nyata pada pagi hari atau apabila subyek lelah. Banyak orang mengeluh mengantuk apabila membaca. Gejala-gejala ini meningkat sampai usia 55 tahun, kemudian stabil tetapi menetap (Ilyas, 2012). Presbiopia terjadi akibat lensa makin keras sehingga elastisitasnya berkurang. Demikian pula dengan otot akomodasinya, daya kontraksinya berkurang sehingga tidak terdapat pengenduran zonula Zinn yang sempurna. Pada keadaan ini maka diperlukan kacamata bifokus, yaitu kacamata untuk melihat jauh dan dekat Pada mata normal, maka pada saat melihat jauh mata tidak melakukan akomodasi. Pada waktu melihat dekat maka mata akan mengumpulkan sinar ke daerah retina dengan melakukan akomodasi. (Ilyas, 2012).
2. Sebutkan dan jelaskan proses terjadinya kelainan pada Mata
a. Tuli Konduktif
Tuli konduktif adalah kerusakan pada bagian telinga luar dan tengah, sehingga menghambat bunyi-bunyian yang akan masuk ke dalam telinga. Kelainan telinga luar yang menyebabkan tuli kondusif adalah otalgia, atresia liang telinga, sumbatan oleh serumen, otitis eksterna sirkumskripta, otitis eksterna maligna, dan osteoma liang teliga. Kelainan telinga tengah yang menyebabkan tuli kondusif ialah sumbatan tuba eustachius, otitis media, otosklerosis, timpanisklerosia, hemotimpanum, dan dislokasi tulang pendengaran. (Indro Soetirto: 2003) Saat terjadi trauma akan menimbulkan suatu peradangan bias saja menimbulkan luka, nyeri kemudian terjadi penumpukan serumen atau otorrhea. Penumpukan serumen yang terjadi dapat mengakibatkan transmisi bunyi atau suara yang terganggu sehingga penderita tidak dapat mempersepsikan bunyi atau suara yang di dengarnya.
Disebabkan oleh kondisi patologis pada kanal telinga ekstrna, membrane timpani atau telinga tengah. Gangguan pendengaran konduktif tidak melebihi 60dB karena hantaran menuju ke koklea melalui tulang hantaran bila intensitasnya tinggi. Penybab tersering gangguan pendengaran jenis ini pada anak yg otitis media dn disffungi tub eustachius yang disebabkan leh otitis edia sekretori. Kedua kelainan tersebut jarang menyebabkan kelainan gangguan pendengaran melebihi 40 dB. Pada gangguan pendengaran jenis ini, transmisi gelombang suara tidak dapat mencapai telinga dalam secara efektif. Ini disebabkan karena beberapa gangguan atau lesi pada kanal telinga luar, rantai tulang pendengaran, ruang telinga tengah, fenestra ovalis, fenestra rotunda, dan tuba auditiva. Pada bentuk yang murni (tanpa komplikasi) biasanya tidak ada kerusakan pada telinga dalam, maupun jalur persyarafan pendengaran nervus vestibulokoklearis (N.VIII). Gejala yang ditemui pada gangguan pendengaran jenis ini adalah seperti berikut:
1. Ada riwayat keluarnya carian dari telinga atau riwayat infeksi telinga sebelumnya.
2. Perasaan seperti ada cairan dalam telinga dan seolah-olah bergerak dengan perubahan posisi kepala.
3. Dapat disertai tinitus (biasanya suara nada rendah atau mendengung).
4. Bila kedua telinga terkena, biasanya penderita berbicara dengan suara lembut (soft voice) khususnya pada penderita otosklerosis.
5. Kadang-kadang penderita mendengar lebih jelas pada suasana ramai.
Menurut Lalwani, pada pemeriksaan fisik atau otoskopi, dijumpai ada sekret dalam kanal telinga luar, perforasi gendang telinga, ataupun keluarnya cairan dari telinga tengah. Kanal telinga luar atau selaput gendang telinga tampak normal pada otosklerosis. Pada otosklerosis terdapat gangguan pada rantai tulang pendengaran. Pada tes fungsi pendengaran, yaitu tes bisik, dijumpai penderita tidak dapat mendengar suara bisik pada jarak lima meter dan sukar mendengar kata-kata yang mengandung nada rendah. Melalui tes garputala dijumpai Rinne negatif. Dengan menggunakan garputala 250 Hz dijumpai hantaran tulang lebih baik dari hantaran udara dan tes Weber didapati lateralisasi ke arah yang sakit. Dengan menggunakan garputala 512 Hz, tes Scwabach didapati Schwabach memanjang.(11)
b. Tuli Sensorineural
Disebabkan oleh kerusakan atau malfungsi koklea, saraf pendengaran dan batang otak sehingga bunyi tidak dapat diproses sebagaimana mestinya. Bila kerusakan terbatas pada sel rambut di koklea maka sel ganglion dapat bertahan atau mengalami degenerasi transneural. Bila sel ganglion rusak, maka nervur VIII akan mengalami degenerasi Wallrerian. Penyebabnya anatara lain adalah: kelainan bawaan, genetic, penyakit/kelainan pada saat anak dalam kandungan, proses kelahiran, inveksi virus, pemakaian obat yang merusak koklea(kina, antibiotika seperti golongan makrolid), radanng selaput otak, kadar bilirubin yang tinggi. Penyebab utama ganguan pendengaran ini disebabkan genetic atau infeksi, sedangkan penyebab yang lain lebih jarang (Susanto. 2010) (10)
Gangguan pendengaran jenis ini umumnya irreversibel. Gejala yang ditemui pada gangguan pendengaran jenis ini adalah seperti berikut:
1. Bila gangguan pendengaran bilateral dan sudah diderita lama, suara percakapan penderita biasanya lebih keras dan memberi kesan seperti suasana yang tegang dibanding orang normal. Perbedaan ini lebih jelas bila dibandingkan dengan suara yang lembut dari penderita gangguan pendengaran jenis hantaran, khususnya otosklerosis.
2. Penderita lebih sukar mengartikan atau mendengar suara atau percakapan dalam suasana gaduh dibanding suasana sunyi.
3. Terdapat riwayat trauma kepala, trauma akustik, riwayat pemakaian obatobat ototoksik, ataupun penyakit sistemik sebelumnya. Menurut Soetirto, Hendarmin dan Bashiruddin, pada pemeriksaan fisik atau otoskopi, kanal telinga luar maupun selaput gendang telinga tampak normal. Pada tes fungsi pendengaran, yaitu tes bisik, dijumpai penderita tidak dapat mendengar percakapan bisik pada jarak lima meter dan sukar mendengar katakata yang mengundang nada tinggi (huruf konsonan). Pada tes garputala Rinne positif, hantaran udara lebih baik dari pada hantaran tulang. Tes Weber ada lateralisasi ke arah telinga sehat. Tes Schwabach ada pemendekan hantaran tulang(11)
c. Tuli campuran
Bila ganguan pendengaran atau tuli konduktif dan sensorineural terjadi bersamaan.(Susanto.2010) (10)
Gangguan jenis ini merupakan kombinasi dari gangguan pendengaran jenis konduktif dan gangguan pendengaran jenis sensorineural. Mula-mula gangguan pendengaran jenis ini adalah jenis hantaran (misalnya otosklerosis), kemudian berkembang lebih lanjut menjadi gangguan sensorineural. Dapat pula sebaliknya, mula-mula gangguan pendengaran jenis sensorineural, lalu kemudian disertai dengan gangguan hantaran (misalnya presbikusis), kemudian terkena infeksi otitis media. Kedua gangguan tersebut dapat terjadi bersama-sama. Misalnya trauma kepala yang berat sekaligus mengenai telinga tengah dan telinga dalam. Gejala yang timbul juga merupakan kombinasi dari kedua komponen gejala gangguan pendengaran jenis hantaran dan sensorineural. Pada pemeriksaan fisik atau otoskopi tanda-tanda yang dijumpai sama seperti pada gangguan pendengaran jenis sensorineural. Pada tes bisik dijumpai penderita tidak dapat mendengar suara bisik pada jarak lima meter dan sukar mendengar kata-kata baik yang mengandung nada rendah maupun nada tinggi. Tes garputala Rinne negatif. Weber lateralisasi ke arah yang sehat. Schwabach memendek(11)
- Faktor Penyebab
Secara garis besar factor penyebab terjadinya ganguan pendengaran dapat berasal dari genetik maupun didapat
1. Factor Genetik
Ganguan pendengaran karena factor genetic pada umumnya berupa gangguan pendengaran bilateral tetapi dapat pula asimetrik dan mungkin bersifat statis maupun progresif. Kelainan dapat bersifat dominan, resesif, berhubungan dengan kromosom X (contoh: Hunter’s syndrome, Alport syndrome, norrie’s disease) kelainan mitokondria (contoh: Kearns-Sayre syndrome), atau merupakan suatu malformasi pada satu atau beberapa organ telinga (contoh: stenosis atau atresia kanal telinga eksternal seing dihubungkan dengan malformasi pinna dan rantai osikuler yang menimbulkan tuli konduktif).
- Factor yang didapat
1. Infeksi
2. Neonatal hiperbilirubinemia
3. Masalah perinatal
4. Obat ototoksik
5. Trauma
6. Neoplasma
(Susanto.2010)
DAFTAR PUSTAKA
1. http://repository.unand.ac.id /1267/1/Penatalaksanaan_Hipermetrop.pdf
diakses 11september 2015 pukul 14.15
2. Ilyas S, Sri rahayu. 2012. Ilmu Penyakit Mata Edisi ke empat. FKUI. JAKARTA
3. https://www.scribd.com/doc/156901411/PRESBIOPI
diakses 11 sep 2015 pukul 22.00
4. Fredrick DR. Myopia clinical review. Br Med J. 2002;324:1195- 9
Diakses 12 September 2015 pukul 10.57
5. McBrien NA, Adams DW. A longitudinal investigation of adult- 112 onset and adult-progression of myopia in an occupational group: refractive and biometric findings. Invest Ophthalmol Vis Sci. 1997;38:321-33. 3.
Diakses 12 September 2015 pukul 10.57
6. Simensen B, Thorud L. Adult-onset myopia and occupation. Acta Ophtalmologica. 1994;72:469-71
Diakses 12 September 2015 pukul 10.57
7. Nurkasih Indah, B sulitomo Astrid and Tri rahayu , 2004. Volum: 60, Nomor: 3, Maret 2010 The Association between Nearwork and Myopia Among Female Shoe Stitchers at “X” Shoe Factory. Occupational Medicine Master Program, Faculty of Medicine, University of Indonesia, Jakarta Opthalmology Department, Faculty of Medicine, University of Indonesia/ Cipto Mangunkusumo National Hospital, Jakarta
8. Goss DA. Nearwork and myopia (commentary). The Lancet. 2000;356:1456-7
9. American Optometric Association,2008
10. Susanto,S . 2010 http://eprints.undip.ac.id/29093/3/Bab_2.pdng
diakses tanggal 12 September 2015 pukul 23.00
11. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21550/4/Chapter%20II.pdf
dikses tanggal 12 September 2015 pukul 22.00
Rabu, 16 September 2015
Satuan Acara Penyuluhan
(S.A.P)
Topik : Peran Perawat Komunitas pada Klien dengan Kasus Chronic Restrictive Pulmonary Disease (CRPD)
Sasaran
1. Umum : Klien dan keluarga
2. Khusus : Klien
Hari/Tanggal : Rabu, 3 Juni 2015
Alokasi Waktu : 30 Menit
Tempat : Klinik Luar Biasa
A.Tujuan
1.Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah dilakukan penyuluhan berupa pendidikan kesehatan dengan pengkajian dan tanggung jawab dari perawat komunitas, pasien dapat memahami apa yang dialami pada dirinya berupa penyakit “Chronic Restrictive Pulmonary Disease” dapat menerima dan terus berpikir optimis menghadapi kehidupannya, sedangkan keluarga dapat terus mendukung pasien dengan segala upaya maksimal dan didampingi oleh perawat komunitas.
2.Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Setelah diberikan penyuluhan selama 1x30 menit, diharapkan:
(1)Keluarga mampu memahami kondisi penyakit pasien;
(2)Keluarga mampu bekerja sama dengan perawat keluarga untuk memberikan perhatian yang maksimal untuk pasien;
(3)Keluarga mampu memahami penanganan pada pasien setelah diajarkan oleh perawat keluarga;
(4)Pasien merasakan perhatian yang maksimal dari keluarga dan tenaga kesehatan serta pasien dapat termotivasi untuk terus memperjuangkan keadaannya dengan terus berpikir optimis dan melakukan hal-hal yang berguna.
B. Sub-Pokok Bahasan Penyuluhan
1. Definisi Chronic Restrictive Pulmonary Disease;
2. Etiologi Chronic Restrictive Pulmonary Disease;
3. Tanda dan gejala Chronic Restrictive PulmonaryDisease;
4. Dampak penyakit terhadap fungsi keluarga;
5. Pengkajian yang perlu dilakukan oleh perawat keluarga.
C. Media
1. Laptop dengan slide Power Point yang berisi materi tentang senam kaki diabetes mellitus termasuk video senam kaki diabetes mellitus.
2. Alat pendukung : kursi dan meja.
D. Rancangan Tempat
Keterangan :
= Meja Pemateri
= Poster
= Kursi Peserta
E. Kegiatan Penyuluhan
No Tahapan Kegiatan Kegiatan Penyuluhan Respon Estimasi Waktu Metode
1 Pendahuluan 1. Penyuluh memberikan salam dan memperhatikan kesiapan sasaran yang ingin dicapai.
2. Menyampaikan materi pokok tentang pencegahan dan penatalaksanaan materi yang disampaikan.
3. Menyampaian tujuan pembelajaran yang akan dicapai baik tujuan umum maupun tujuan khusus. Menjawab salam dan mendengarkan pemateri 5 Menit Ceramah
2 Penyampaian Materi 1. Menyebutkan definisi Diabetes Mellitus;
2. Menjelaskan komplikasi Diabetes Mellitus pada kaki;
3. Menjelaskan definisi senam kaki Diabetes Mellitus;
4. Menjelaskan manfaat senam kaki Diabetes Mellitus;
5. Menjelaskan langkah-langkah
senam kaki Diabetes Mellitus;
6. Memperagakan materi yang disampaikan
7. Tanya jawab
8. Memberikan pujian atas upaya positif yang dilakukan sasaran yang ingin dicapai selama pendidikan kesehatan berlangsung.
Mendengarkan penjelasan pemateri dan mengikuti instruksi dari pemateri 10 Menit Ceramah, simulasi
3 Penutup 1. Memberikan evaluasi
2. Menyimpulkan materi yang disampaikan
3. Penutup 1. Menjawab pertanyaan
2. Memberikan kesimpulan
3. Menjawab salam 5 Menit Ceramah
F. Evaluasi
1. Struktur:
a. Rancangan Penyuluhan telah dikonsultasikan selama 3 hari sebelumnya.
b. Peralatan dan media telah dipersiapkan selama 3 hari sebelumnya.
c. Pembagian tugas telah dilaksanakan.
d. Kontrak tempat dan waktu penyuluhan selama 7 hari sebelumnya.
e. Leaflet sudah diberikan sebelum menyampaikan materi.
2. Proses
a. Minimal 80% peserta penyuluhan hadir pada pertemuan pendidikan kesehatan.
b. Minimal 70% peserta aktif pada penyuluhan dan tanya jawab kegiatan.
c. Masing-masing anggota kelompok pelaksana penyuluhan menjalankan tugasnya dengan baik dan penuh tanggung jawab.
3. Hasil
a. Kegiatan penyuluhan berlangsung dengan rencana yang telah dirancang.
b. Minimal 50% peserta yang hadir pada penyuluhan dapat menjawab pertanyaan evaluasi tentang penyuluhan yang disampaikan. Daftar pertanyaan:
1) Komplikasi apa yang dapat terjadi pada kaki penderita diabetes mellitus?
2) Apa saja manfaat dari dilakukannya senam kaki pada penderita diabetes mellitus?
3) Bagaimana langkah-langkah melakukan senam kaki pada penderita diabetes mellitus?
c. Memberikan bingkisan kepada peserta yang bertanya dan bisa menjawab pertanyaan.
d. Peserta penyuluhan mampu menerapkan senam kaki yang memberikan manfaat untuk pencegahan komplikasi terjadinya ulkus diabetikum pada penderita diabetes mellitus.
G. Sumber
1. National Institutes of Health. (2001) Global initiative for chronic obstructive lung disease: Global strategy for the diagnosis, management, and prevention of chronic obstructive pulmonary disease. U.S. Department of Health and Human Services, NIH Publication Number 2701B.
2.
3. Andarwanti,L 2009, Pengaruh Senam Kaki Diabetes Terhadap Neuropati Sensorik pada Kaki Pasien Diabetes Melitus Di Wilayah Kerja Puskesmas Tegalrejo, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
4. Soebagio, Imam. (2011). Senam Kaki Sembuhkan Diabetes Mellitus. Diakses dari http://pakdebagio.blogspot.com/2011/04/senam-kaki-sembuhkan-diabetes-melitus.html.
H. Materi (Lampiran)
1. Latar Belakang
Sebagai seorang perawat keluarga, salah satu tugas adalah mendidik pasien dan keluarga untuk mencapai kebutuhan kesehatan dalam lingkup bio, psiko, sosio dan spiritual. Pada suatu kelurahan terdapat sebuah kasus yang memerlukan peranan dari perawat keluarga. Ada seorang pria berusia 59 tahun dengan masalah kesehatan yaitu Chronic Restrictive Pulmonary Disease (CRPD). Ia tinggal sendiri, tetapi memiliki dua orang anak yang telah dewasa dan tinggal tidak jauh dari rumahnya yang saling bergiliran untuk mengantarkan ia jika ada janji atau jadwal untuk check up ke klinik. Dalam kunjungannnya baru-baru ini, pasien terlihat tampak sangat lemah dan fatigue, membutuhkan upaya ekstra untuk bernafas dan kehilanggan berat badan hampir 4,5 kg dalam satu bulan terakhir. Akhir-akhir ini, ia tampak perlu dirawat di rumah sakit. Anak perempuannya mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi pernafasan ayahnya dan kebutuhan ayahnya untuk mendapatkan perawatan yang lebih dari biasanya. Disisi lain, anda mengetahui bahwa pasien dengan kondisi seperti ini dapat memburuk seiring berjalannya waktu dan biasanya akan membutuhkan bantuan ventilator ketika mereka tidak dapat lagi bernafas dengan adekuat secara mandiri.
Strategi yang ditekankan pada kasus ini adalah bagaimana peran perawat keluarga dapat memberikan pengkajian dalam konteks sistem nilai bagi pasien dan keluarganya serta menunjukkan tanggung jawab legal sebagai seorang perawat keluarga.
2. Definisi
Chronic Restrictive Pulmonary Disease atau disebut Chronic Obstructive Pulmonary Disease adalah sebuah penyakit yang dikarakteristikan dengan keterbatasan aliran udara yang tidak sepenuhnya reversibel. Pengertian terbaru dari COPD berasal dari the Global Initiative for Chronic Obstructive Lung Disease (National Institutes of Health (NIH), 2001).
Menurut Tabrani Rab (2010) COPD merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan batuk produktif dan dispnea karna terjadinya terjadinya obstruksi saluran nafas, sekalipun penyakit ini bersifat kronis dan merupakan gabungan dari emfisema, bronkiolitis kronik, maupun asma, tetapi dalam keadaan tertentu terjadi perburukan dari fungsi pernapasan. Dalam beberapa keadaan perubahan dari COPD ini dapat menyebabkan terjadinya kegagalan pernapasan.
3. Etiologi
Penyebab dari penyakit ini belum pasti diketahui. Tapi faktor resiko timbulnya penyakit ini adalah:
a. Merokok
b. Polusi udara
c. Infeksi paru berulang
d. Defisiensi anti oksidan
e. Umur
4. Tanda dan Gejala
a. Kelemahan badan
b. Batuk
c. Sesak napas
d. Sesak napas saat beraktivitas dan napas berbunyi (mengi atau wheezing)
e. Ekspirasi yang memanjang
f. Barrel chest pada penyakit lanjut
g. Penggunaan otot bantu pernapasan
h. Suara napas melemah
i. Edema kaki
5. Dampak Penyakit Terhadap Fungsi Keluarga
a. Fungsi biologis
Dalam memenuhi kebutuhan biologis, keluarga tidak berfungsi secara maksimal karena anggota keluarganya yang menderita Penyakit Paru Obstruktif Kronik yang membutuhkan perhatian untuk memenuhi kebutuhanya.
b. Fungsi psikologis
Penyakit Paru Obstruktif Kronik ini sangat mempengaruhi terhadap psikologis penderita atau keluarga karena akan menimbulkan kecemasan. Apalagi setelah tahu bahwa penyakit tersebut akan menimbulkan komplikasi yang lebih parah..
c. Fungsi sosial
Keadaan sakit mengakibatkan aktivitas seseorang menjadi terbatas salah satunya dalam bersosialisai dan berinteraksi baik di dalam maupun dengan masyarakat luar sekitarnya. Kunjngan pada acara-acara tertentu seperti pengajian pun jadi terganggu.
d. Fungsi pendidikan
Fungsi pendidikan seperti penanaman akhlak yang baik, pengetahuan dan keterampilan sehubungan dengan fungsi lainnya akan terganggu.
e. Fungsi ekonomi
Salah satu unsur untuk meningkatkan kesehatan yaitu dengan cara melakukan pengobatan, untuk itu biaya yang diperlukan keluarga menjadi lebih besar sehubungan dengan adanya anggota keluarga yang sakit.
6. Pengkajian
a. Identifikasi masalah emosional
1) Pertanyaan tahap I
a) Apakah klien mengalami sukar tidur?
b) Apakah klien sering merasa gelisah?
c) Apakah klien sering murung atau menangis sendiri?
d) Apakah sering was-was atau kuatir?
2) Lanjutkan tahap 2, jika lebih atau sama dengan satu jawab “ya”. Pertanyaan tahap 2
a) Keluhan lebih dari 3 bulan atau lebih dari satu kali dalamsatu bulan?
b) Ada masalah atau banyak pikiran?
c) Ada gangguan/masalah dengan keluarga lain?
d) Menggunakan obat tidur/penenang atas anjuran dokter ?
e) Cenderung mengurung diri ?
Bila lebih atau sama dengan 1 jawaban “ya”, Masalah emosional klien positif (+).
b. Pengkajian fungsional klien
1) Katz Indeks
a) Mandiri dalam makan, kontinensia (BAB, BAK), menggunakan pakaian, pergi toilet, berpindah dan mandi.
b) Mandiri semuanya kecuali salah satu saja dari fungsi di atas.
c) Mandiri, kecuali mandi dan satu lagi fungsi yang lain.
d) Mandiri kecuali mandi, berpakaian dan satu fungsi yang lain.
e) Mandiri kecuali mandi, berpakaian, ke toilet dan satu fungsi yang lain.
f) Mandiri kecuali mandi, berpakaian, ke toilet, berpindah dan satu fungsi yang lain.
g) Ketergantungan untuk semua fungsi diatas.
h) Lain-lain. Keterangan :
Mandiri berarti tanpa pengawasan, pengarahan atau bantuan aktif dari orang lain. Seseorang yang menolak untuk melakukan suatu fungsi dianggap tidak melakukan fungsi, meskpun ia dianggap mampu.
2) Barthel Indeks
Tabel 1.1.
Barthel Indeks
No Kriteria Dengan Bantuan Mandiri Keterangan
1 2 3 4 5
1
Makan 5
Frekuensi:
Jumlah:
Jenis:
2 Minum 5 Frekuensi:
Jumlah:
Jenis:
3 Berpindah dari kursi roda ke tempat tidur, sebaliknya 5-10
4 Personal toilet (cuci muka, menyisir rambut, gosok gigi) 0 Frekuensi
5 Keluar masuk toilet (mencuci pakaian, menyeka tubuh, menyiram) 5
6 Mandi 5 Frekuensi
7 Jalan kepermukaan datar 0
8 Naik turun tangga 5
9 Mengenakan pakaian 5
10 Kontrol bowel (BAB) 5 Frekuensi:
Konsistensi:
11 Kontrol bladder (BAK) 5 Frekuensi:
Warna:
12 Olahraga/latihan 5 Jenis:
Rekreasi/pemanfaatan waktu luang 5 Jenis:
Frekuensi:
Jumlah
Keterangan :
• 130 : mandiri
• 65-125 : ketergantungan sebagian
• 60 : ketergantungan total
3) Aspek kognitif dari fungsi mental dengan menggunakan mini mental status exam (MMSE)
Tabel 1.2.
MMSE
No Aspek kognitif Nilai maksimal Nilai klien Kriteria
1 2 3 4 5
1
2
3
4
5
6 Orientasi
Orientasi
Registrasi
Perhatian dan kalkulasi
Mengingat
Bahasa 5
3
3
5
3
9 Menyebutkan dngan benar ?
o Tahun
o Musim
o Tangal
o Hari
o Bulan
Dimana kita sekarang berada ?
o Negara
o Propinsi
o Kota
o RT
o RW
Sebutkan nama tiga objek (pemeriksa) satu detik untuk mengatakan masing-masing objek. Kemudian tanyakan kepada klien ketiga objek tadi (sebutkan)
o Kursi
o Meja
o Pintu
Minta klien untuk memulai dari angka 100 kemudian dikurangi 7 sampai 5 tingkat
o 93
o 86
o 79
o 72
o 65
Minta klien untuk mengulangi ketiga objek pada no 2 tadi.
Tunjukan pada klien suatu benda dan tanyakan namanya pada klien
o Buku
o Jam tangan
Minta klien untuk mengulang kata berikut : “tak ada jika, dan atau tetapi”
o Pertanyaan benar dua buah: tak ada tetapi
Minta klien untuk mengikuti perintah berikut yang terdiri atas tiga langkah “ambil kertas ditangan anda, lipat dua dan taruh dilantai”.
o Ambil kertas ditangan anda
o Lipat dua
o Taruh dilantai
Perintahkan klien untuk hal berikut
o “tutup mata anda”
Perintahkan pada klien untuk menulis satu kalimat dan menyalin gambar
o Tulis satu kalimat
o Menyalin gambar
Jumlah
Keterangan :
• >23 : aspek kognitif dari fungsi mental baik
• 18-22 : kerusaka
• n aspek mental ringan
• ≤ : terdapat kerusakan aspek fungsi mental berat
4) Pengkajian status mental
a) Identifikasi tingkat kerusakan intelektual dengan menggunakan short portable mental status questioner (SPSMQ)
Tabel 1.3.
SPSMQ
Benar Salah No Pertanyaan
1 2 3 4
01
02
03
04
05
06
07
08
09
10 Tanggal berapa hari ini ?
Hari apa sekarang ?
Apa nama tempat ini ?
Dimana alamat anda ?
Berapa umur anda ?
Kapan anda lahir ? (minimal tahun)
Siapa presiden Indonesia sekarang ?
Siapa presiden sebelumnya ?
Siapa nama ibu anda ?
Kurangi 3 dari 20 ?
Keterangan :
• Salah 0-3 : fungsi intelektual utuh
• Salah 4-5 : kerusakan intelektual ringan
• Salah 6-8 : kerusakan intelektual sedang
• Salah 9-10 : kerusakan intelektual berat
b) Pengkajian keseimbangan untuk klien lansia (adaptasi dan dimodifikasi dari Tinneti, ME, Ginter, dan SF, 1998). Pengkajian keseimbangan dinilai dari dua komponen utama dalam bergerak, dari dua komponen tersebut dibagi lagi dalam beberapa gerakan yang perlu diobservasi oleh perawat. Kedua komponen tersebut adalah :
• Perubahan posisi atau gerakan keseimbangan dari kondisi dibawah ini :
Beri nilai nol jika klien tidak menunjukan kondisi dibawah ini atau beri
nilai satu jika klien menunjukan salah satu.
Bangun dari kursi (dimasukan dalam analisa)*
Tidak bangun dari duduk dengan satu kali gerakan, tetapi mendorong tubuhnya keatas dengan tangan atau bergerak kebagian depan kursi terlebih dahulu, tidak stabil pada saat berdiri pertama kali.
Duduk ke kursi (dimasukan dalam analisa)*
Menjatuhkan diri ke kursi, tidak duduk di tengah kursi. Keterangan : (*) kursi yang keras dan tanpa lengan.
Menahan dorongan pada sternum (pemeriksa mendorong sternum dengan perlahan-lahan sebanyak tiga kali)
Klien menggerakan kaki, memegang objek untuk dukungan, kaki tidak menyentuh sisinya. Beri nilai satu jika klien menunjukan kondisi diatas dan beri nilali nol jika klien tidak menunjukan kondisi tersebut. Mata tertutup : Sama seperti diatas (periksa kepercayaan pasien tentang input penglihatan untuk keseimbangan). Beri nilai satu jika klien menunjukan kondisi diatas dan beri nilai nol jika klien tidak menunjukan kondisi tersebut.
Pemutaran leher
Menggerakan kaki, memegang objek untuk dukungan ; kaki tidak menyentuh sisinya, keluhan pertigo, pusing atau keadan tidak stabil. Beri nilai satu jika klien tidak menunjukan kondisi diatas dan beri nilai nol jika klien tidak menunjukan kondisi tersebut.
Gerakan menggapai sesuatu
Tidak mampu untuk menggapai sesuatu dengan bahu fleksi seoenuhnya sementara berdiri pada ujung-ujung jari kaki, tidak stabil, memegang sesuatu untuk dukungan. Beri nilai satu jika klien menunjukan kondisi diatas dan beri nilai nol jika klien tidak menunjukan kondisi tersebut.
Membungkuk
Tidak mampu membungkuk untuk mengambil objek-objek kecil (misal, pulpen dari lantai, memegang objek untuk bisa berdiri lagi, memerlukan usaha-usaha untuk bangun). Beri nilai satu jika klien menunjukan kondisi diatas dan beri nilai nol jika klien tidak menunjukan kondisi tersebut.
• Komponen gaya berjalan atau gerakan
Beri nilai nol jika klien tidak menunjukan kondisi di bawah ini atau beri nilai satu jika klien menunjukan salah satu dari kondisi di bawah ini :
Minta klien untuk berjalan ke tempat yang ditentukan, ragu-ragu, tersandung, memegang objek untuk dukungan.
Ketinggian langkah kaki (mengangkat kaki saat melangkah).
Kaki tidak naikm dari lantai secara konsisten (menggeser atau menyeret kaki), mengangkat kaki terlalu tinggi (lebih dari 5cm).
Kontinuitas langkah kaki (lebih baik diobsrvasi dari samping klien)
Setelah langkah-langkah awal, langkah menjadi tidak konsisten, memulai mengangkat kaki sementara kaki yang lain menyentuh lantai.
Kesimetrisan langkah (lenih baik diobservasi dari samping klien)
Tidak berjalan dalam garis lurus, bergelombang dari sisi ke sisi lain.
Penyimpangan jalur pada saat berjalan (lebih baik diobservasi dari belakang klien)
Tidak berjalan dalam garis lurus, bergelombang dari sisi ke sisi lain.
Berbalik
Berhenti sebelu mulai berbalik, jalan sempoyongan, bergoyang, memegang objek untuk dukungan.
Interpretasi hasil :
Jumlahkan semua nilai yang diperoleh klien, yang dapat diinterpretasikan sebagai berikut :
0-5 : resiko jatuh rendah
6-10 : resiko jatuh sedang
11-15 : resiko jatuh tinggi
kelainan Pada mata
1. Proses Terjadinya Kelainan Pada Mata
a. Hipermetropi
Hipermetropi adalah kelainan refraksi dimana sinar sejajar yang berasal dari tak berhingga memasuki mata difokuskan dibelakang retina. Dikatakan juga mata kekurangan kekuatan 1+; plus . Hal ini dapat disebabkan oleh axial length mata lebih pendek dari normal, sehingga mata tidak cukup mempunyai kekuatan plus untuk memfokuskan bayangan di retina.(1)
Hipermetropia merupakan keadaan gangguan kekuatan pembiasan mata dimana sinar sejajar jauh tidak cukup dibiaskan sehingga titik fokusnya terletak di belakang makula retina. Pada hipermetropi sinar sejajar difokuskan dibelakang macula lutea. ( Ilyas, 2012)
Penyebab utama hipermetropia adalah panjangnya bola mata yang lebih pendek. Akibat bola mata yang lebih pendek, bayangan benda akan difokuskan di belakang retina.
Diameter anterior posterior bola mata yang lebih pendek, kurvatura kornea dan lensa yang lebih lemah, dan perubahan indeks refraktif menyebabkan sinar sejajar yang datang dari objek terletak jauh tak terhingga di biaskan di belakang retina.
Hipermetropi dapat disebabkan:
a. Hipermetropi sumbu atau hipermetropi aksial merupakan kelainan refraksi akibat bola mata pendek atau sumbu anteroposterior yang pendek.
b. Hipermetropi kurvatur dimana lengkungan kornea atau lensa kurang sehingga banyangan difokuskan dibelakang retina
c. Hipermetropi rekaktif dimana terdapat indeks bias yang kurang pada system optic mata.
Hipermetropi dikenal dalam bentuk :
- Hipermetropi manifest yaitu hipermetropi yang dapat dikoreksidengan kacamata positif maksimal yang memberikan tajam penglihatan normal. Hipermetropi manifest didapatkan Tanpa skiloplegik dan hipermetropi yang dapat dilihat dengan kacamata maksimal.
- Hipermetropi absolute kelainan refraksi tidak diimbangi dengan akomodasi dan memerlukan kacamata positif untuk melihat jauh.
- Hipermetropi fakutatif , dimana kelainan hipermetropi dapatdiimbangi dengan akomodasi ataupun dengan kacamata positif. Pasien yang hanya mempunyai hipermetropi fakultatif akan melihat normal tanpa kacamata posotif
- Hipermetropi laten , kelainan tanpa sikplegia diimbangi seluruh dengan akomodasi . dapat diukur bila diberikan siklopegia. Makin muda makin besar komponen hipernetropi laten seseorang. Makin tua seseorang akan terjadi kelemahan akomodasi sehingga akan menjadi hipermetropi absolute.
- Hipermetropi total , hipermetropi yang ukurannya didapatkan sesudah diberikan siklopegia.
Mata dengan hipermetropia sering akan memperlihatkan ambliopiis akibat mata tanpa akomodasi tidak [ernah meliht obyek dengan baik daan jelas. Bila terjadi ammbliopia pada salah satu mata. Mata ambliopia sering menggulir kea rah temporal.
Pengobatan hipermetropi adalah diberikan koreksi hipermetropi manifest dimana tanpa sikloplegia didapatkan ukuran lensa positif maksimal yang emberikan tajaman penglihatan normal.
Secara klinis, hipermetropia terbagi dalam 3 kategori (AOA, 2008)
a. Simple hyperopia, karena variasi normal biologis, bisa disebabkan oleh panjang sumbu aksial mata ataupun karena refraksi.
b. Pathological hyperopia, disebabkan anatomi mata yang abnormal karena gagal kembang, penyakit mata, atau karena trauma.
c. Functional hyperopia adalah akibat dari paralisis akomodasi.
Pada mata dengan miopia tinggi akan terdapat kelainan pada fundus okuli seperti degenerasi makula, degenerasi retina bagian perifer, dengan miopik kresen pada papil saraf optik (Ilyas,2012).
Pengobatan pasien dengan miopia adalah dengan memberikan kacamata sferis negatif terkecil yang memberikan ketajaman penglihatan maksimal (Ilyas,2012).
Pasien dengan miopia akan menyatakan melihat lebih jelas bila dekat bahkan terlalu dekat, sedangkan melihat jauh kabur (rabun jauh). Seseorang dengan miopia mempunyai kebiasaan mengerinyitkan matanya untuk mencegah aberasi sferis atau mendapatkan efek pinhole (lubang kecil) (Ilyas, 2012). Pasien miopia jarang merasakan sakit kepala. Kadang-kadang terlihat bakat untuk menjadi juling (Ilyas, 2012). Hal ini dikarenakan pasien miopia mempunyi pungtum remotum yang dekat sehingga mata selalu dalam atau keadaan konvergensi yang akan menimbulkan keluhan astenopia konvergensi. Bila Bila terdapat perbedaan kekuatan hipermetropia antara kedua mata, maka akan terjadi ambliopia pada salah satu mata. Mata ambliopia sering menggulir ke arah temporal (Ilyas, 2012).
Pasien muda dengan hipermetropia tidak akan memberikan keluhan karena matanya masih mampu melakukan akomodasi kuat untuk melihat benda dengan jelas. Pada pasien yang banyak membaca atau mempergunakan matanya, terutama pada usia yang lanjut, akan memberikan keluhan kelelahan setelah membaca. Keluhan tersebut berupa sakit kepala, mata terasa pedas dan tertekan (Ilyas, 2012).
Keluhan mata yang harus berakomodasi terus untuk dapat melihat jelas adalah mata lelah, sakit kepala, dan penglihatan kabur bila melihat dekat kedudukan mata ini menetap, maka penderita akan terlihat juling ke dalam atau esotropia (Ilyas, 2012).
Pada pemeriksaan funduskopi terdapat miopik kresen, yaitu gambaran bulan sabit yang terlihat pada polus posterior fundus mata miopia, yang terdapat pada daerah papil saraf optik akibat tidak tertutupnya sklera oleh koroid
Patofisiologi hipermetropi
b. Miopi
Pada myopia panjang bol mata anteroposterior dapat terlalu besar atau kekuatan pembiasan media refraksi terlalu kuat. Dikenal beberapa bentuk myopia seperti:
- Myopia Retraktif , bertambah nya indeks bias media penglihatan seperti terjadi pada katarak intumesen diamna lensa menjadi lebih cembung sehingga pembiasan lebih kuat. Sama dengan myopia bias atau myopia indeks, myopia yang tterjadi akibat pembiasan media penglihatan kornea dan lensa yang terlalu kuat.
- Myopia aksial , myopia akibat panjangnya sumbu bola mata dengan kelengkungan kornea dan lensa yang normal.
Menurut perjalanan nya miopi dikenal dengan :
- Miopi stasioner , miopi yang menetap setelah dewasa
- Miopi progresif , miopi yang beertambah terus pada usia dewasa akibat bertambah panjang bola mata (Ilyas, 2012)
Miopia timbul akibat gangguan pada regulasi pertumbuhan mata. Gangguan regulasi dapat bersifat herediter, yang biasanya mengakibatkan miopia onset muda (usia kurang dari 20 tahun), atau merupakan pengaruh lingkungan, yang biasanya mengakibatkan miopia onset dewasa (usia 20 tahun ke atas). Lingkungan yang mempengaruhi regulasi pertumbuhan mata antara lain adalah nearwork kerja jarak dekat (Fredrick DR, 2002).
Beberapa penelitian telah melaporkan prevalensi miopia yang tinggi di kalangan pekerja dengan jenis pekerjaan jarak dekat antara lain penelitian oleh (Simensen et al,1994) dan( McBrien et al.1997)
Prevalensi miopia yang ditemukan pada penelitian ini (12,6%) berbeda dengan prevalensi miopia pada kerja jarak dekat yang lain. Pada kerja jarak dekat membaca di kalangan mahasiswa, prevalensi miopia ditemukan sebesar 66%, pada pekerja dengan mikroskop prevalensi miopia ditemukan sebesar 33% sedangkan pada operator komputer prevalensi miopia sebesar 79%.
Menurut analisis bivariat, kerja jarak dekat (jarak merupakan faktor risiko miopia pada penjahit sepatu. Hal ini sesuai dengan pernyataan dari US National Academy of Sciences yang menyatakan bahwa mengerjakan kerja jarak dekat menempatkan seseorang pada risiko myopia(Goss DA,.2000)
Didapatkan prevalensi miopia 12,6%. Sebagian besar responden mempunyai tingkat pengetahuan yang kurang mengenai higiene visual. Kerja jarak dekat berhubungan dengan miopia, sedangkan faktor-faktor lain (usia, lama pendidikan, masa kerja, aktivitas jarak dekat lain, dan iluminasi) tidak berhubungan bermakna dengan miopia.(NurKasih indah , et al. 2004)
c. Astigmatis
Astigmatisme adalah suatu keadaan dimana sinar yang sejajar tidak dibiaskan dengan kekuatan yang sama pada seluruh bidang pembiasan sehingga fokus pada retina tidak pada satu titik .Umumnya setiap orang memiliki astigmatisme ringan (Ilyas,2012) Astigmatisme merupakan akibat bentuk kornea yang oval seperti telur, makin lonjong bentuk kornea makin tinggi astigmatisme mata tersebut. Astigmatisme biasanya bersifat diturunkan atau terjadi sejak lahir. Astigmatisme biasanya berjalan bersama dengan miopia dan hipermetropia dan tidak banyak terjadi perubahan selama hidup (Ilyas, 2012).
Pada usia pertengahan, kornea menjadi lebih sferis kembali sehingga astigmatisme menjadi astigmatism against the rule (astigmatisme tidak lazim)
Adanya kelainan kornea dimana permukaan luar korneatidak teratur. Media refrakta yang memiliki kesalahan pembiasan yang paling besar adalah kornea, yaitu mencapai 80% sd 90% dari astigmatismus, sedangkan media lainya adalah lensa kristalin. Kesalahan pemiasan pada kornea ini terjadi karena perubahan lengkung kornea dengan tanpa pemendekan atau peanjangan diameter anterior posterior bola mata.
Astigmatisme juga dapat terjadi akibat jaringan parut pada kornea atau setelah pembedahan mata. Jahitan yang terlalu kuat pada bedah mata dapat mengakibatkan perubahan pada permukaan kornea. Bila dilakukan pengencangan dan pengenduran jahitan pada kornea maka dapat terjadi astigmatisme akibat terjadi perubahan kelengkungan kornea.
Ada beberapa bentuk Astigmatisme :
- Astigmatisme regular adalah suatu keadaan refraksi dimana terdapat dua kekuatan pembiasan yang saling tegak lurus pada sistem pembiasan mata. Hal ini diakibatkan kornea yang mempunyai daya bias berbeda-beda pada berbagai meridian permukannya. Astigmatisme ini memperlihatkan kekuatan pembiasan bertambah atau berkurang perlahan-lahan secara teratur dari satu meridian ke meridian berikutnya. Bayangan yang terjadi pada astigmatisme regular dengan bentuk teratur dapat berbentuk garis, lonjong, atau lingkaran.
- Astigmatisme iregular yaitu astigmatisme yang terjadi tidak mempunyai 2 meridian saling tegak lurus. Astigmatisme ireguler dapat terjadi akibat kelengkungan kornea pada meridian yang sama berbeda sehingga bayangan menjadi iregular. Astigmatisme iregular terjadi akibat infeksi kornea, trauma dan distrofi, atau akibat kelainan pembiasan pada meridian lensa yang berbeda.
- Astigmatisme lazim (astigmat with the rule) adalah suatu keadaan kelainan refraksi astigmatisme regular dimana koreksi dengan silinder negatif dengan sumbu horizontal (45-90 derajat). Keadaan ini lazim didapatkan pada anak atau orang muda akibat perkembangan normal dari serabut-serabut kornea.
d. Presbiopi
Presbiopi merupakan kondisi mata dimana lensa kristalin kehilangan fleksibilitasnya sehingga membuatnya tidak dapat fokus pada benda yang dekat. Presbiopi adalah suatu bentuk gangguan refraksi, dimana makin berkurangnya kemampuan akomodasi mata sesuai dengan makin meningkatnya umur. Presbiopi merupakan bagian alami dari penuaan mata. Presbiopi ini bukan merupakan penyakit dan tidak dapat dicegah. Presbiopi atau mata tua yang disebabkan karena daya akomodasi lensa mata tidak bekerja dengan baik akibatnya lensa mata tidak dapat memfokuskan cahaya ke titik kuning dengan tepat sehingga mata tidak bisa melihat yang dekat. Presbiopi adalah suatu bentuk gangguan refraksi, dimana makin berkurangnya kemampuan akomodasi mata sesuai dengan makin meningkatnya umur.(4)
Presbiopia yaitu hilangnya daya akomodasi yang terjadi bersamaan dengan proses penuaan pada semua orang. Seseorang dengan mata emetropik (tanpa kesalahan refraksi) akan mulai merasakan ketidakmampuan membaca huruf kecil atau membedakan benda-benda kecil yang terletak berdekatan pada usia sekitar 44-46 tahun. Hal ini semakin buruk pada cahaya yang temaram dan biasanya lebih nyata pada pagi hari atau apabila subyek lelah. Banyak orang mengeluh mengantuk apabila membaca. Gejala-gejala ini meningkat sampai usia 55 tahun, kemudian stabil tetapi menetap (Ilyas, 2012). Presbiopia terjadi akibat lensa makin keras sehingga elastisitasnya berkurang. Demikian pula dengan otot akomodasinya, daya kontraksinya berkurang sehingga tidak terdapat pengenduran zonula Zinn yang sempurna. Pada keadaan ini maka diperlukan kacamata bifokus, yaitu kacamata untuk melihat jauh dan dekat Pada mata normal, maka pada saat melihat jauh mata tidak melakukan akomodasi. Pada waktu melihat dekat maka mata akan mengumpulkan sinar ke daerah retina dengan melakukan akomodasi. (Ilyas, 2012).
2. Sebutkan dan jelaskan proses terjadinya kelainan pada Mata
a. Tuli Konduktif
Tuli konduktif adalah kerusakan pada bagian telinga luar dan tengah, sehingga menghambat bunyi-bunyian yang akan masuk ke dalam telinga. Kelainan telinga luar yang menyebabkan tuli kondusif adalah otalgia, atresia liang telinga, sumbatan oleh serumen, otitis eksterna sirkumskripta, otitis eksterna maligna, dan osteoma liang teliga. Kelainan telinga tengah yang menyebabkan tuli kondusif ialah sumbatan tuba eustachius, otitis media, otosklerosis, timpanisklerosia, hemotimpanum, dan dislokasi tulang pendengaran. (Indro Soetirto: 2003) Saat terjadi trauma akan menimbulkan suatu peradangan bias saja menimbulkan luka, nyeri kemudian terjadi penumpukan serumen atau otorrhea. Penumpukan serumen yang terjadi dapat mengakibatkan transmisi bunyi atau suara yang terganggu sehingga penderita tidak dapat mempersepsikan bunyi atau suara yang di dengarnya.
Disebabkan oleh kondisi patologis pada kanal telinga ekstrna, membrane timpani atau telinga tengah. Gangguan pendengaran konduktif tidak melebihi 60dB karena hantaran menuju ke koklea melalui tulang hantaran bila intensitasnya tinggi. Penybab tersering gangguan pendengaran jenis ini pada anak yg otitis media dn disffungi tub eustachius yang disebabkan leh otitis edia sekretori. Kedua kelainan tersebut jarang menyebabkan kelainan gangguan pendengaran melebihi 40 dB. Pada gangguan pendengaran jenis ini, transmisi gelombang suara tidak dapat mencapai telinga dalam secara efektif. Ini disebabkan karena beberapa gangguan atau lesi pada kanal telinga luar, rantai tulang pendengaran, ruang telinga tengah, fenestra ovalis, fenestra rotunda, dan tuba auditiva. Pada bentuk yang murni (tanpa komplikasi) biasanya tidak ada kerusakan pada telinga dalam, maupun jalur persyarafan pendengaran nervus vestibulokoklearis (N.VIII). Gejala yang ditemui pada gangguan pendengaran jenis ini adalah seperti berikut:
1. Ada riwayat keluarnya carian dari telinga atau riwayat infeksi telinga sebelumnya.
2. Perasaan seperti ada cairan dalam telinga dan seolah-olah bergerak dengan perubahan posisi kepala.
3. Dapat disertai tinitus (biasanya suara nada rendah atau mendengung).
4. Bila kedua telinga terkena, biasanya penderita berbicara dengan suara lembut (soft voice) khususnya pada penderita otosklerosis.
5. Kadang-kadang penderita mendengar lebih jelas pada suasana ramai.
Menurut Lalwani, pada pemeriksaan fisik atau otoskopi, dijumpai ada sekret dalam kanal telinga luar, perforasi gendang telinga, ataupun keluarnya cairan dari telinga tengah. Kanal telinga luar atau selaput gendang telinga tampak normal pada otosklerosis. Pada otosklerosis terdapat gangguan pada rantai tulang pendengaran. Pada tes fungsi pendengaran, yaitu tes bisik, dijumpai penderita tidak dapat mendengar suara bisik pada jarak lima meter dan sukar mendengar kata-kata yang mengandung nada rendah. Melalui tes garputala dijumpai Rinne negatif. Dengan menggunakan garputala 250 Hz dijumpai hantaran tulang lebih baik dari hantaran udara dan tes Weber didapati lateralisasi ke arah yang sakit. Dengan menggunakan garputala 512 Hz, tes Scwabach didapati Schwabach memanjang.(11)
b. Tuli Sensorineural
Disebabkan oleh kerusakan atau malfungsi koklea, saraf pendengaran dan batang otak sehingga bunyi tidak dapat diproses sebagaimana mestinya. Bila kerusakan terbatas pada sel rambut di koklea maka sel ganglion dapat bertahan atau mengalami degenerasi transneural. Bila sel ganglion rusak, maka nervur VIII akan mengalami degenerasi Wallrerian. Penyebabnya anatara lain adalah: kelainan bawaan, genetic, penyakit/kelainan pada saat anak dalam kandungan, proses kelahiran, inveksi virus, pemakaian obat yang merusak koklea(kina, antibiotika seperti golongan makrolid), radanng selaput otak, kadar bilirubin yang tinggi. Penyebab utama ganguan pendengaran ini disebabkan genetic atau infeksi, sedangkan penyebab yang lain lebih jarang (Susanto. 2010) (10)
Gangguan pendengaran jenis ini umumnya irreversibel. Gejala yang ditemui pada gangguan pendengaran jenis ini adalah seperti berikut:
1. Bila gangguan pendengaran bilateral dan sudah diderita lama, suara percakapan penderita biasanya lebih keras dan memberi kesan seperti suasana yang tegang dibanding orang normal. Perbedaan ini lebih jelas bila dibandingkan dengan suara yang lembut dari penderita gangguan pendengaran jenis hantaran, khususnya otosklerosis.
2. Penderita lebih sukar mengartikan atau mendengar suara atau percakapan dalam suasana gaduh dibanding suasana sunyi.
3. Terdapat riwayat trauma kepala, trauma akustik, riwayat pemakaian obatobat ototoksik, ataupun penyakit sistemik sebelumnya. Menurut Soetirto, Hendarmin dan Bashiruddin, pada pemeriksaan fisik atau otoskopi, kanal telinga luar maupun selaput gendang telinga tampak normal. Pada tes fungsi pendengaran, yaitu tes bisik, dijumpai penderita tidak dapat mendengar percakapan bisik pada jarak lima meter dan sukar mendengar katakata yang mengundang nada tinggi (huruf konsonan). Pada tes garputala Rinne positif, hantaran udara lebih baik dari pada hantaran tulang. Tes Weber ada lateralisasi ke arah telinga sehat. Tes Schwabach ada pemendekan hantaran tulang(11)
c. Tuli campuran
Bila ganguan pendengaran atau tuli konduktif dan sensorineural terjadi bersamaan.(Susanto.2010) (10)
Gangguan jenis ini merupakan kombinasi dari gangguan pendengaran jenis konduktif dan gangguan pendengaran jenis sensorineural. Mula-mula gangguan pendengaran jenis ini adalah jenis hantaran (misalnya otosklerosis), kemudian berkembang lebih lanjut menjadi gangguan sensorineural. Dapat pula sebaliknya, mula-mula gangguan pendengaran jenis sensorineural, lalu kemudian disertai dengan gangguan hantaran (misalnya presbikusis), kemudian terkena infeksi otitis media. Kedua gangguan tersebut dapat terjadi bersama-sama. Misalnya trauma kepala yang berat sekaligus mengenai telinga tengah dan telinga dalam. Gejala yang timbul juga merupakan kombinasi dari kedua komponen gejala gangguan pendengaran jenis hantaran dan sensorineural. Pada pemeriksaan fisik atau otoskopi tanda-tanda yang dijumpai sama seperti pada gangguan pendengaran jenis sensorineural. Pada tes bisik dijumpai penderita tidak dapat mendengar suara bisik pada jarak lima meter dan sukar mendengar kata-kata baik yang mengandung nada rendah maupun nada tinggi. Tes garputala Rinne negatif. Weber lateralisasi ke arah yang sehat. Schwabach memendek(11)
- Faktor Penyebab
Secara garis besar factor penyebab terjadinya ganguan pendengaran dapat berasal dari genetik maupun didapat
1. Factor Genetik
Ganguan pendengaran karena factor genetic pada umumnya berupa gangguan pendengaran bilateral tetapi dapat pula asimetrik dan mungkin bersifat statis maupun progresif. Kelainan dapat bersifat dominan, resesif, berhubungan dengan kromosom X (contoh: Hunter’s syndrome, Alport syndrome, norrie’s disease) kelainan mitokondria (contoh: Kearns-Sayre syndrome), atau merupakan suatu malformasi pada satu atau beberapa organ telinga (contoh: stenosis atau atresia kanal telinga eksternal seing dihubungkan dengan malformasi pinna dan rantai osikuler yang menimbulkan tuli konduktif).
- Factor yang didapat
1. Infeksi
2. Neonatal hiperbilirubinemia
3. Masalah perinatal
4. Obat ototoksik
5. Trauma
6. Neoplasma
(Susanto.2010)
DAFTAR PUSTAKA
1. http://repository.unand.ac.id /1267/1/Penatalaksanaan_Hipermetrop.pdf
diakses 11september 2015 pukul 14.15
2. Ilyas S, Sri rahayu. 2012. Ilmu Penyakit Mata Edisi ke empat. FKUI. JAKARTA
3. https://www.scribd.com/doc/156901411/PRESBIOPI
diakses 11 sep 2015 pukul 22.00
4. Fredrick DR. Myopia clinical review. Br Med J. 2002;324:1195- 9
Diakses 12 September 2015 pukul 10.57
5. McBrien NA, Adams DW. A longitudinal investigation of adult- 112 onset and adult-progression of myopia in an occupational group: refractive and biometric findings. Invest Ophthalmol Vis Sci. 1997;38:321-33. 3.
Diakses 12 September 2015 pukul 10.57
6. Simensen B, Thorud L. Adult-onset myopia and occupation. Acta Ophtalmologica. 1994;72:469-71
Diakses 12 September 2015 pukul 10.57
7. Nurkasih Indah, B sulitomo Astrid and Tri rahayu , 2004. Volum: 60, Nomor: 3, Maret 2010 The Association between Nearwork and Myopia Among Female Shoe Stitchers at “X” Shoe Factory. Occupational Medicine Master Program, Faculty of Medicine, University of Indonesia, Jakarta Opthalmology Department, Faculty of Medicine, University of Indonesia/ Cipto Mangunkusumo National Hospital, Jakarta
8. Goss DA. Nearwork and myopia (commentary). The Lancet. 2000;356:1456-7
9. American Optometric Association,2008
10. Susanto,S . 2010 http://eprints.undip.ac.id/29093/3/Bab_2.pdng
diakses tanggal 12 September 2015 pukul 23.00
11. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/21550/4/Chapter%20II.pdf
dikses tanggal 12 September 2015 pukul 22.00
Senin, 27 April 2015
pemeriksaan Dx HIperparatiroid (nurse Untan)
hyperparatiroid pemeriksaan penunjang
1. PTH darah (peningkatan pada hiperparatiroid, penurunan pada hipoparatiroid) Kadar normal: 10-55 pg/mL
2. Kadar fosfat darah (penurunan pada hiperparatiroid) Kadar normal: 2.5-4.5 mg/dL (dewasa); 3.4-6.2 mg/dL (anak-anak)
3. Kadar 1,25 DHC (Kadar normal: 18-62 ng/mL)
4. Hormon PTHrP (Parathyroid Hormon-Related Protein)
(jika diduga ada keganasan, biasanya dari carcinoma mammae atau oat cell tumor paru-paru; merupakan stimulan osteoklas yang poten; biasa disintesis di otak, kelenjar mammae, sel endotel, dan lain-lain; mengatur distribusi kalsium transplasental)
Kadar normal: <2.5pmol/L
5. Kadar Ca dan P urin 24 jam(Ca: 0-300 mg/24 jam), P: 0.9-1.3 g/24 jam (sekresi kalsium akan menurun, tetapi sekresi fosfat meningkat)
6. Kreatinin dan albumin serum (untuk menilai fungsi ginjal) Kadar normal: kreatinin 0.6-1.5 mg/dL, albumin serum 3.5-5 mg/dL
7. EKG (interval QT akan memendek pada hiperparatiroid)
8. USG dan CT scan paratiroid
9. USG dan CT scan ginjal
10. Foto toraks dan abdomen (untuk mengetahui kalsifikasi ektopik ginjal, paru-paru, maupun gaster)
11. DEXA bone scan (Normal: DMT antara +1 dan –1 rata rata dewasa muda)
Osteopenia: DMT antara –1 sampai –2,5
Osteoporosis: DMT < – 2,5
Osteoporosis berat : DMT < -2,5 disertai fraktur
12. Osteocalcin (untuk mengetahui pembentukan tulang, osteocalcin merupakan protein yang dibentuk oleh osteoblas untuk membentuk matriks tulang)
Normal values for NMID osteocalcin (ng/mL) were the following according to age and gender: 24–70 in men aged 18–30, 14–42 in men aged 30–50, 14–46 in men older than 50, 11–43 in premenopausal women and 15–46 in postmenopausal women.
13. β-CrossLaps (indikator penghancuran tulang, merupakan hasil degradasi kolagen tipe I yang terdapat dalam tulang) Kadar normal: <0.6 ng/mL
Pemeriksaan diagnostic pada kelenjar paratiroid
1. Percobaan Sulkowitchs
Dilakukan untuk memeriksa perubahan jumlah kalsium dalam urine, sehingga dapat diketahui aktivitas kelenjar paratiroid. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Reagens Sulkowitch. Bila pada percobaan tidak terdapat endapan maka kadar kalsium plasma diperkirakan antara 5 mg/dl. Endapan sedikit (fine white cloud) menunjukkan kadar kalsium darah normal (6ml/dl). Bila endapan banyak, kadar kalsium tinggi.
Persiapan
urine 24 jam ditampung
makanan rendah kalsium 2 hari berturut-turut
Pelaksanaan
masukan urine 3 ml ke dalam tabung (2 tabung
kedalam tabung pertama dimasukkan reagens sulkowitch 3 ml, tabung kedua hanya sebagai control
Pembacaan hasil secara kwantitatif :
Negative (-) : tidak terjadi kekeruhan
Positif(+) : terjadi kekeruhan yang halus
Positif(++) : kekeruhan sedang
Positif(+++) : kekeruhan banyak timbul dalam waktu kurang dari 20 detik
2. Percobaan Ellword-Howard
Percobaan didasarkan pada dieresis pospor yang dipengaruhi oleh parathormon
Cara Pemeriksaan
Klien disuntik dengan perathormon melalui intravena kemudian urine ditampung dan diukur kadar pospornya. Pada hipoparatiroid, dieresis pospor bisa mencapai 5-6 kali nilai normal hiperparatiroid, dieresis pospornya tidak banyak berubah.
3. Percobaan Kalsium Intravena
Percobaan ini didasarkan pada anggapan bahwa bertambahnya kadar serum kalsium akan menekan pembentukan parathormon. Normal bila pospor serum meningkat dan pospor dieresis berkurang. Pada hiperparatiroid, pospor serum dan pospor dieresis tidak banyak berubah. Pada hipoparatiroid pospor serum hamper tidak mengalami perubahan tetapi pospor dieresis meningkat.
4. Pemeriksaan Radiologi
Persiapan khusus tidak ada. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya kalsifikasi tulang, penipisan dan osteoporosis. Pada hipotiroid, dapat dijumpai kalsifikasi bilateral pada dasar tengkorak. Densitas tulang bisa normal atau meningkat. Pada hipertiroid, tulang menipis, membentuk kista dalam tulang serta tuberculae pada tulang.
5. Pemeriksaan Elektrokardiogram (ECG)
Persiapan khusus tidak ada. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelainan gambaran EKG akibat perubahan kadar kalsium serum terhadap otot jantung. Pada hiperparatiroid, akan dijumpai gelombang Q-T yang memanjang sedangkan pada hiperparatiroid interval Q-T mungkin normal.
6. Pemeriksaan Elektromiogram (EMG)
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan kontraksi otot akibat perubahan kadar kalsium serum. Persiapan khusus tidak ada.
sexual abuse
• Pengertian
Sexsual Abuse adalah setiap aktivitas padaanakk dimana umur belm mencukupi enurut izin hokum, yang digunakan pelaku untuk sumber kepuasan seksual orangdwasa atau anak yang sangat lebih tua. Seksual abuse termasuk oral-genital , genital-genital , genital-rectal , tangan-genital , tangan- rectal atau kontak payudarasertapemapaan anatomi seksual menunjukan pornografi pada anak. (Behrman and Nelson, 1996)
• Etiologi
1. Anak yg disalahgunakan oleh ayah sendiri dan ayah tiri serta orang lain
2. Kecenderungan pedofil
3. Kekerasan pada anak
(Behrman and Nelson, 1996)
• Tanda dan gejala
1. Nyeri vagina, penis atau rectum
2. Disuria kronik dan gerakan usus yg tdak disengaja
3. Pubertas premature
(Behrman and Nelson , 1996)
• Pemeriksaan
1. Pemeriksaan kulit akibat trauma (leher dan mulut )
2. Pemeriksaan abdomen
3. Pmeriksaan Genitalia, rectum
4. Pemeriksaan rectaltoohtcre
( Behrman and Nelson , 1996)
• Pengobatan
1. Dukungan psikologi
2. Terapi
3. Pemberian antibiotic jika terjadi infeksi
• Pencegahan
1. Mengajari anak nama-nama semua bagian tubuh termasuk nama, fungsi , dan arti serta bagian yang privat ( payudara genetalia dan rectum)
2. Mengatakan tidakutuk disentuh
(Behrman and Nelson , 1996)
Menarche
• Tanda gejala :
1. Suhu badan meningkat
2. Pinggang sakit
3. Pusing
4. Payudara membengkak
5. Gang. Pda kulit
6. Nafsu makan berlebih
• Factor yg mempengaruhi menarche (lestari, 2011)
1. Factor internal
a. Organ reproduksi
Factor yg mempengaruhiketika haid pertama adalah vagina tdk tmbuh dan berkembang dgn baik, rahim tdk tumbuh dan indung telur tdk tumbuh.
b. Hormonal
Rangsangan dari luar masuk kepusat panca indra diteruskan melalui striae terminalis menju pusatyg dsebut pubertas inhibitor dengan hambatan tersebut tidak terjadi rangsangan terhadap hipotalamus yag akan memberikan rangsangan pda hipofse pars posterior sbgai pusat kelenjar.
Rangsangan terus menerus ditangkap oleh panca indra menuju ke hipotalamus mnuju ke hipofise anterior mngeluarkan hormone yg dpat merangsang kelenjar utk keluarkan hormone spesifik yaitu : kelenjar tiroid produksi tiroksin, kelenjar indung telur yg peroduksi esterogen dan progesterone , sedangkan kelenjar adrenal mengahsilkan hormone adrenalin.
Yang dihasilkan petama kali oleh hipotalamus yaitu FSH hormone ini merangsang pertumbuhan folikel yang mengandung sel telur dan indung telur ,karena terangsang oleh FSH , folikel itu pun akan menghasilkan estrogen yang membantu pada bag. Dada dan alat kemaluan gadis .
Peningkatan taraf esterogen dalam darah mempunyai pengaruh (-) di hipotalamus menyebabkan bekurangnya FSH. Membuat FSH mengeluarkan LH. Hormone LH akan mengeluarkan sel telur utk terjadi pembuahan. Folikel yg tersisa / korpus lutium yg menghasilkan esterogen lalu mengeluarkan progesterone . apabila sel telur tidak dibuahi makataraf eterogen dan progeteron dalam aliran darah akan merosot sehingga menyebabkan alas garis menjadi pecah .ini lah proses yg dinamakan pendarahan saat dating haid yg pertama.
c. Penyakit
Beberapa penyakit yang menyebabkan haid dating terlambat adalah infeksi .
2. Factor eksternal
a. Gizi
b. Pengetahuan orangtua
c. Gaya hidup
(jptunimus-gdl-sitinuryan-7219-3-babii.pdf)
• Siklus menstruasi
1. Fase folikuler
Fase pertama sebagai fase pd siklus mens smpai terjadi ovulasi . 28 hari , fase meliputi 14 hari pertama . fase ovulator krng lebih 28 hari . fase ii volikel ovarium mulai matang walaupun hanya satu menjadi folikel dominan . pendarahan 4-5 hari fase folikularperkembngan folikel ovarium adanya proliferasi dan aktivitas aroma tesesel granulose yg dinduksi oleh FSH . kadar estradiol meningkat FSH menginduksi , FSH juga menstimuasi sintesis reseptor LH dan memulai reseptor LH . padahari 5-7 sebuah folikel lain mendominasi folikel lain menjadi matang dan berovulasi antara hari ke 13-15 .
2. Fase ovulator
Fase ini ditandai dengan lokjakan sekresi LH hipofisi yg menuncak saat dilepasnya ovum yg matang melalui kapsul ovarium 2-3 hari sblm lonjakan LH estradiolyg bersikulasi meningkatsecara cepat dan bersamaan sintesisnya bekerja dalam keadaan max dan tdk lagi bergantung pada FSH. Progesterone mulai meningkat saat lonjakan LH menginduksi sintesis progesterone oleh sel granulose .
Pada fase ini efek umpan balik positif pada sekresi LH pd pertengahan siklus . peningkatan sterogen ovarium mrupkan pusat dari ovulasi adanya lonjakan gonadostropin yg terjadi ketika terdapat peningkatan yg terus menerus. Peningkatan sensistivitas gonadrotopin hipofisis . ovulasi Nampak membutukna LH . LH telah diinhibitor sintesis prostaglandin menghambat ovulasi .
3. Fase luteal
Stelah ovulasi , ovarium pembentukan dan pmeliharaan korpus luteum . luteal membuat esterogen . konstentsi esterogen dalam keadaan pra ovulator dengan umpan balik + .konstentrasi progesteon dan hidroksiprogesteron yg tinggi diekresi oleh korpus luteum . progesterone meningkat mencegah esterogen utk menstimulsi lonjakan LH yg lain dr hipofisis. Tinggi nya esteogen dan progesterone produksi denyut GnRH pravolunter menurun menyebabkan sekresi FSH dan LH pda garis besar. Lamanya fase luteal leih konsisten dri pda folikular biasanya 14 krng lbh 2 hari . jika tdk mengalami kehamilan korpus luteumakan mengalami regeresi dan perkmbngan folikel berlanjut kesiklus berikutnya. Setelah 14hari sekresi LH basal pun tdk mampu utk menunjang fungsi endokrin. Peningkatan sekresi FSHenjelang akhir fase lateral bergantung pda penurunan kadarprogesteron, estradiol, dan inhibin dlm sirkulasi yg ms berlangsung
4. Fase menstruasi
Sekelompok folikel yg baru telah direkrut dan akan berlanjut ke folikel yg matang dan salah satu kan berovulasi . peristiwa endometrium yg dipicu oleh hilangnya dukungan progesterone terhadap kopus luteum pd siklus nonkonsepsi. Penurunan progesterone premenstruasi behub dengn penurunan aktivitas hidropraktaglandin. Homeostasis prostaglandin dan tromboksan menyebabkan kontraksi miometrium dan vascular dalam uterus.pengendalian berpusat pdterjadinya iskemia endrometrium, yg merupakan awal dr peluruhan endometrium dan penghentian pendarahan mentruasi.
• Respons seksual manusia
Fase-fase respon seksual :
1. Daya tarik atau Gairah seksual
Tahap yg bersifatindividual , yg bersifat kepribadian. Wujudrangsangan berupa khayalan , bau, suara, dan fisik seperti sentuhan . jika pengukuran aliran darah di pelvic sebgai indikasi tingkat bgairah. Situasi rangsangan yg baru dan tidak terduga, wanita menykai khayalan, emosi, romantisme, atau yg sudah dikenal.
2. Eksitasi
Ketertarikan dirangsang oleh stimulus pskologi atau fisisologi. Kedaan gairah meningkat pada fae plato. Jika stimulsi cukup maka akan tejadi orgasme atau klimkas kesenangan meledak.
3. Resolusi
Gairah seksual akan menghilang kembalinya gairah dan orgasm digaris dasar.
Respons seksual pria :
Ereksi penis terjadi selama fase eksitasi dengan vasodiltasi otot polos lakunar penis yg akan menyebabkan penis menjadi besar da keras . rangsngan erektilbersifat psikogenik dan somatogenik, rangsangan imajinasi visual langsung dari limbic ke jalur desensen kemedula spinalis menuju ke efeen otonom dan visceral menuju penis . rangsangan yaitu sentuhan . rangsangan taktil ereksi tanpa progresi kefase berikut missal suara bising yg tiba-tiba ini dapat mengggagu ereksi penis.
Selama fase plato peningkatan involunter pada vasokongesti dan ereksi penis . ukuran penis membesar dan skortum turun ke perineum. Terdapat ketegangan otoot , emisi terjaid sebelum ejakulasi kontraksi oto, kelnjar prostat dan vas deferens dan vesikula dinduksi dalam uretra . setelah fase plato tercapai dilanjutkan dengan fase ejakulasi dan orgasme. Selama osrasme ketegangan otottrjadi terjadi hiperventilasi . ejakulasi semen ini dari penis menandai tinggi orgasme serta perasaan senang memuncak. Pengecilan penisselama fase resolusi tahap 1 insolusi penis cepat , tahap 2 prose pengembalian penis ke ukuran normal .
Respons seksual wanita :
Rangsangan somatogenik dan psikogenik membangkitkn gairahbwanita melalui jalur saraf yg sama . respons klitolis terhadap rangsangan lebih sulit diprediksi dibandngkan.rangsangan taktil dari perineum mnimbulkan vasokongesti pebesaran badan klitoris dan ereksi . semakin lama eksitasi dan plato, semakin banyak produksi cairan pelumas vagina. Vagina melebar dan menajang selam afase eksitasi. (Heffner and schust,2005)
Siklus respon seksual dibagi menjadi empat fase, yaitu:
1. Fase Rangsangan (Exicetement)
Reaksi Umum pada kedua jenis kelamin
- Denyut jantung dan tekanan darah terus meningkat.
- Puting susu ereksi.
- Miotonia dimulai.
Reaksi wanita
- Diameter klitoris membesar dan membengkak.
- Genetalia eksterna menegang dan warna menjadi gelap.
- Terjadi lubrikasi vagina : dua pertiga bagian atas vagina memanjang dan meluas.
- Serviks dan uterus tertarik ke atas.
- Ukuran payudara membesar.
2. Faseu Flateau (penguatan respons fase exicetement)
Reaksi umum pada dua jenis kelamin
- Denyut jantung dan tekanan darah terus meninkat .
- Pernafasan menigkat.
- Miotonia menjadi nyata: wajah meringis.
Respon wanita
- Kepala klitoris retraksi dibawah pembungkus klitoris.
- Sepertiga bagian bawah vagina membesar.
- Warna kulit berubah terlihat kemeraha di payudara, abdomen, atau dipermukaan yang lain.
3. Fase Orgasme (penyaluran kumpulan darah &tegangan otot)
Reaksi umum pada dua jenis kelamin
- Denyut jantung, tekanan darah, dan pernafasan meningkat sampai tingkat maksimum.
- Timbul spasme otot involunter.
- Sfingter rektum eksterna berkontraksi.
Respon wanita
- Kontraksi ritmik yang kuat terasa di klitoris, vagina dan uterus.
- Sensasi hangat menyebar diseluruh daerah pelvis.
4. Fase Resolusi (fisiologis dan psikologis kembali kedalam keadaan tidak terangsang)
Reaksi umum pada dua jenis kelamin
- Denyut jantung, tekanan darah, dan pernafasan kembali normal.
- Ereksi puting susu mereda.
- Miotonia berkurang.
- Berkeringat
Respon wanita
- Engorgement pada genetalia eksterna dan vagina berkurang.
- Serviks dan uterus turun ke posisi normal.
- Ukuran payudara mengecil.
- Kemerahan di kulit menghilang.
Sabtu, 18 April 2015
review jurnal ( efektifitas buah belimbing terhadap penurunan TD padapenderita hipertensi)
Efektifitas Buah Belimbing Terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi di Sumolepen Kelurahan Balongsari Kota Mojokerto
REVIEW JURNAL ILMIAH
UNTUK KAJIAN PENELITIAN YANG RELEVAN
NamaPengutip: Kelompok
Hari/Tgl Pengarsipan: 2015
No ASPEK JURNAL SUBSTANSI/ ISI JURNAL DIKUTIP
1 Judul /title: Efektifitas Buah Belimbing Terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Penderita Hipertensi di Sumolepen Kelurahan Balongsari Kota Mojokerto
2 Nama penulis : Putri Indah Dwipayanti, S.Kep.Ns
3 Nama, edisi, halaman jurnal : Jurnal Keperawatan ,januari 2011-desember 2011,vol 01 /nomor 01
Sumber/bentuk http:
4 Setting penelitian
A. Tempat penelitian : Penelitian dilaksanakan di
setelah pengambilan sampel di Puskesmas Balongsari kota Mojokerto
B. Waktu penelitian : Waktu yang diperlukan dalam penelitian ini adalah selama 11 bulan.
C. Subyek penelitian : Populasi target pada penelitian ini adalah pasien penderita hipertensi primer sebanyak 172 orang di Puskesmas Balongsari Mojokerto tahun 2009. Tetapi populasi terjangkau dalam penelitian ini penderita yang rutin memeriksakan penyakit nya di Puskesmas sebanyak 43 orang.
5 Kerangkapikir :
1. Hipertensi sering dijumpai pada orang dewasa dan merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi di masyarakat.
2. Hipertensi merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan melainkan hanya dapat dikontrol, untuk itu diperlukan ketlatenan dan biaya yang cukup mahal. Dalam mengontrol hipertensi kita dapat memanfaatkan pengobatan secara farmakologis dengan menggunakan obat-obatan sintetis yang belakangan ini cenderung mengalami hambatan karena daya beli masyarakat yang semakin menurun, sehingga kita dapat memanfaatkan pengobatan secara non farmakologis dengan obat alternatif berbahan baku buah belimbing yang bisa dijangkau dari segi materiil (Lastri, 2009).
3. darah yang meningkat bisa berpengaruh pada pembuluh darah jantung. Bila berlangsung lama akan terjadi gagal jantung yang disusul dengan sesak nafas, akibat yang lebih serius lagi adalah terjadinya stroke dan kematian karena aliran darah tidak lancar, sehingga suplai oksigen yang dibawa oleh sel-sel darah merah menjadi terlambat.
4. Mengingat tanaman ini sering kita jumpai di lingkungan kita dan mempunyai manfaat yang besar pula, sehingga diharapkan dengan melakukan pengobatan hipertensi secara non farmakologis (buah belimbing), tekanan darah pada penderita bisa menurun.
5. Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk menganalisa efektifitas buah belimbing terhadap penurunan tekanan darah penderita hipertensi, sedangkan untuk tujuan khususnya meliputi (1) Mengidentifikasi tekanan darah penderita hipertensi sebelum diberikan terapi buah belimbing, (2) Mengidentifikasi tekanan darah penderita hipertensi sesudah diberikan terapi buah belimbing (3) Menganalisa efektifitas buah belimbing terhadap penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi.
6 Metodologi penelitian
A. Jenis/ pendekatan : Kualitatif
B. Metode sampling : Mengambil 30 responden untuk dijadikan sampel penelitian.
C. Metode pengumpulan data Mengumpulkan data dengan cara pemberian terapi buah belimbing dilakukan selama 3 hari berturut-turut dengan frekuensi 2X dalam sehari. Setelah proses pemberian terapi buah belimbing dilakukan, tepatnya hari ke 3, peneliti kembali mengukur tekanan darah.
D. Metode analisis data : Data dari pengukuran hasil tekanan darah diperoleh melalui observasi. Data tersebut dicatat, ditabulasi, dan dikelompokan sesuai dengan variable yang diteliti. hasilnya disajikan secara deskriptif dalam bentuk table.
7 Teori yang digunakan : 1. Hipertensi sering dijumpai pada orang dewasa dan merupakan masalah kesehatan yang umum terjadi di masyarakat. Banyak orang yang menderita penyakit tersebut, tetapi tidak menyadarinya. Penyakit ini berjalan terus menerus seumur hidup dan sering tanpa adanya keluhan yang khas selama belum ada komplikasi pada organ tubuh. Sehingga tidaklah mengherankan bila hipertensi dijuluki sebagai pembunuh diam-diam (the silent killer). Hipertensi merupakan penyakit yang tidak dapat disembuhkan melainkan hanya dapat dikontrol, untuk itu diperlukan ketlatenan dan biaya yang cukup mahal. Dalam mengontrol hipertensi kita dapat memanfaatkan pengobatan secara farmakologis dengan menggunakan obat-obatan sintetis yang belakangan ini cenderung mengalami hambatan karena daya beli masyarakat yang semakin menurun, sehingga kita dapat memanfaatkan pengobatan secara non farmakologis dengan obat alternatif berbahan baku buah belimbing yang bisa dijangkau dari segi materiil (Lastri, 2009).
2. Menurut AHA (American Heart Association) di Amerika, tekanan darah tinggi ditemukan dari setiap tiga orang atau 65 juta orang dan 28% atau 59 juta orang mengidap prehipertensi. Semua orangyang mengidap hipertensi hanya satu pertiganya yang mengetahui keadaannya dan hanya 61% medikasi. Dari penderita yang mendapat medikasi hanya satu pertiga mencapai target darah yang optimal atau normal (Artikel Kesehatan, 2009).
3. Faktor yang berpengaruh memicu terjadinya hipertensi diantaranya adalah faktor genetik, jenis kelamin, umur, obesitas, dan konsumsi garam serta alkohol
(Beevers, D. G, 2000).
4. Tekanan darah yang meningkat bisa berpengaruh pada pembuluh darah jantung. Bila berlangsung lama akan terjadi gagal jantung yang disusul dengan sesak nafas, akibat yang lebih serius lagi adalah terjadinya stroke dan kematian karena aliran darah tidak lancar, sehingga suplai oksigen yang dibawa oleh sel-sel darah merah menjadi terlambat. Melihat kompleksnya permasalahan hipertensi dan adanya hambatan pengobatan hipertensi secara farmakologis akibat daya beli masyarakat yang semakin menurun dan mempunyai harga yang cukup mahal, sehingga antisipasi dari permasalahan tersebut perlu diberikan terobosan baru kepada masyarakat, bahwasannya pengobatan non farmakologis (buah belimbing) dapat menjadi pilihan alternatif yang bagus, baik dari segi ekonomis maupun manfaatnya (Lastri, 2009).
5. Buah belimbing mempunyai kadar potasium (kalium) yang tinggi dengan natrium yang rendah sebagai obat hipertensi yang tepat. Sehingga, diharapkan dengan mengkonsumsi buah belimbing muda dalam jumlah tertentu (3 buah) dapat menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi . Soedarya (2009) Di Indonesia belum ada data nasional, namun pada studi INA-MONICA (Multinational Monitoring of Trends and Determinants In Cardiovascular Disease) 2000 di daerah perkotaan Jakarta memperlihatkan kasus hipertensi derajat II (berdasarkan JNC II) adalah sebesar 20,9% dan di daerah Lido pedesaan kecamatan Cijeruk sebesar 16,9%. Hanya 13,3% penderita di daerah perkotaan dan 4,2% penderita di daerah pedesaan yang menjalani pengobatan (Yudini, 2006).
8 Hasil/temuan penelitian : 1. Table 1 (hasil uji penderita hipertensi sebelum diberikan terapi buah belimbing) menunjukkan bahwa dari 30 responden didapatkan nilai rata-rata MAP sebelum diberikan terapi buah belimbing adalah sebesar 126,44 mmHg.
2. Table 2 (hasil uji penderita hipertensi setelah diberikan terapi buah belimbing) menunjukkan bahwa dari 30 responden telah didapatkan nilai rata-rata MAP setelah diberikan terapi buah belimbing adalah sebesar 112,78 mmHg.
3. Table 3 (Analisa Efektifitas Buah Belimbing Terhadap Penurunan Tekanan Darah Penderita Hipertensi) menunjukan bahwa dari 30 responden telah didapatkan hasil rata-rata dari MAP sebelum diberikan terapi buah belimbing sebesar 126,45 mmHg, sedangkan hasil rata-rata MAP setelah diberikan terapi buah belimbing sebesar 112,78 mmHg. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa adanya penurunan nilai rata-rata MAP antara pre test dan post test sebesar 13,67 mmHg disebabkan karena responden telah diberikan terapi buah belimbing.
4. Dari hasil uji statistik Paired t Test diatas didapatkan nilai signifikansi (2-tailed) sebesar 0,000. Oleh karena nilai p value<0,05 berarti H0 ditolak dan H1 diterima, sehingga dapat dinyatakan bahwa buah belimbing efektif untuk penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi
9 Pembahasan/Diskusi 1. Analisa Tekanan Darah Penderita Hipertensi Sebelum Diberikan Terapi Buah Belimbing
a) Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, data menunjukkan bahwa tekanan darah pada tiap-tiap responden bervariasi. Data menunjukkan nilai rata-rata MAP pre test (sebelum diberikan terapi buah belimbing) sebesar 126,45 mmHg. Variasi nilai tekanan darah tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah faktor usia, jenis kelamin, kegemukan (obesitas), faktor riwayat keluarga, kebiasaan/pola hidup (konsumsi garam, merokok, konsumsi alcohol, dan olahraga) serta stress (Beevers. D, 2000).
b) Dari faktor usia telah didapatkan data pada gambar 4.2 bahwa sebagian besar responden yaitu sebanyak 17 orang (56,7%) berumur antara 51-55 tahun. Tekanan darah akan semakin meningkat dengan bertambahnya usia. Hal ini sering disebabkan oleh karena perubahan alamiah dari dalam tubuh yang mempengaruhi jantung, pembuluh darah, dan hormon (Beevers. D, 2000).
c) Dari gambar 4.1 telah ditunjukkan bahwa hampir seluruh jenis kelamin responden atau sebesar 23 orang (76,7%) berjenis kelamin perempuan. Hal ini telah dijelaskan oleh Beevers D (2000), bahwa perbandingan antara pria dan wanita, ternyata wanita lebih banyak menderita hipertensi.
d) Dari gambar 4.3 didapatkan bahwa hampir setengah responden atau sebesar 13 orang (43,3%) berpendidikan SD. Tingkat pendidikan seseorang dapat mempengaruhi tingkat pengetahuannya.
e) Sedangkan dari gambar 4.4 didapatkan bahwa hanpir seluruh responden yaitu sebesar 24 orang (80%) tidak bekerja. Dalam hal ini, bekerja sama halnya dengan beraktivitas atau dapat pula dikatakan sebagai olahraga.
f) Selain faktor tersebut, terjadinya peningkatan tekanan darah juga disebabkan oleh karena responden dalam penelitian ini masih belum mencoba menurunkan tekanan darahnya dengan cara alamiah atau non farmakologis yang dalam hal ini adalah buah belimbing.
2. Analisa Efektifitas Buah Belimbing Terhadap Penurunan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi
a) Dari hasil penelitian telah didapatkan hasil nilai rata-rata MAP post test (setelah diberikan terapi buah belimbing) sebesar 112,78 mmHg. Setelah data terkumpul kemudian dilakukan uji statistik Paired t Test yang diperoleh hasil nilai signifikansi (2-tailed) 0,000 yang berarti bahwa buah belimbing efektif untuk penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi di Sumolepen Kelurahan Balongsari Kota Mojokerto.
b) Pada dasarnya buah belimbing mengandung kadar kalium yang tinggi serta natrium yang rendah sebagai obat anti hipertensi.
c) Terjadinya penurunan tekanan darah responden disebabkan oleh karena kandungan buah belimbing yang kaya akan kalium dan rendah natrium.
d) Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa fakta adanya penurunan nilai rata-rata MAP post test penderita hipertensi (responden) telah sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa buah belimbing dapat dimanfaatkan untuk menurunkan tekanan darah tinggi. Sehingga terjadinya penurunan rata-rata sistolik dan distolik ini terjadi oleh karena responden telah diberikan terapi buah belimbing, dan keadaan ini menunjukkan bahwa pemberian terapi buah belimbing efektif untuk menurunkan tekanan darah responden yang menderita hipertensi.
10 Kesimpulan KESIMPULAN
1. Tekanan darah pada penderita hipertensi sebelum diberikan terapi buah belimbing didapatkan nilai rata-rata MAP sebesar 126,45 mmHg.
2. Tekanan darah pada penderita hipertesni setelah diberikan terapi buah belimbing didapatkan nilai rata-rata MAP sebesar 112,78 mmHg.
3. Berdasarkan hasil Uji Paired t Test disimpulkan bahwa buah belimbing efektif untuk penurunan tekanan darah pada penderita hipertensi di Sumolepen Kelurahan Balongsari Kota Mojokerto
11 Kekurangan Kekurangan :
Pada hasil penelitian tidak dimasukkan jenis kelamin, umur, pendidikan dan pekerjaan di tabel. Hanya hasil tekanan darah pre test dan post test saja yang dimasukkan kedalam tabel penelitian padahal dijelaskan dipembahasan bahwa jenis kelamin, umur, pendidikan, dan juga pekerjaan dapat mempengaruhi peningkatan tekanan darah.
12 Kelebihan Kelebihan :
Penelitian ini sangat bermanfaat karena memanfaatkan tanaman yang cukup ekonomis untuk dijadikan obat non farmakologis sebagai ganti dari obat farmakologis yang mana dijelaskan dalam jurnal “Melihat kompleksnya permasalahan hipertensi dan adanya hambatan pengobatan hipertensi secara farmakologis akibat daya beli masyarakat yang semakin menurun dan mempunyai harga yang cukup mahal, sehingga antisipasi dari permasalahan tersebut perlu diberikan terobosan baru kepada masyarakat, bahwasannya pengobatan non farmakologis (buah belimbing) dapat menjadi pilihan alternatif yang bagus, baik dari segi ekonomis maupun manfaatnya (Lastri, 2009).” dan dalam penelitian ini dijelaskan uji statistik yang digunakan secara detail seperti nilai p untuk menetukan data yang didapatkan normal atau tidak sehingga bisa dipilih uji statistik yang tepat digunakan.
12 Saran & rekomendasi
A. Saran : Perlu dilakukan penelitian ulang yang lebih teliti dengan menambahkan factor ex nya seperti umur, jenis kelamin , pekerjaan
B. Rekomendasi : -
SAP DBD
SATUAN ACARA PENYULUHAN DBD
Bidang Studi : Penyuluhan Komunitas
Topik : DBD
Subtopik : Pencegahan DBD bagi kesehatan masyarakat dan Lingkungan
Sasaran
A. Penyuluhan : Orang Tua (Para Ibu)
B. Pencegahan : Masyarakat Gang
Jam : 16.00-16.30
Hari/Tanggal : 12 Juni 2014
Waktu : 20 menit
Tempat : Ruang Pertemuan Puskesmas Kelurahan
TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
a. Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan selama 20 menit, diharapkan masyarakat komplek dapat mengerti tentang pengertian, gejala-gejala DBD, faktor resiko DBD, penyebab DBD, penanganan DBD, dan cara pencegahan penyakit DBD sehingga klien dapat menanggulanginya.
TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan selama 20 menit, diharapkan Orang Tua (Para Ibu) masyarakat komplek akan dapat menjelaskan tentang:
1. Pengertian DBD
2.Penyebab
3.Tanda dan gejala DBD
4. Faktor Resiko DBD
5.Ciri-ciri DBD
6.Komplikasi DBD (perdarahan/ trombositopenia)....
7. Cara pencegahan penyakit DBD
8.Penanganan DBD
MATERI
Terlampir
MEDIA
1. Materi SAP
2.Lembar Balik
3. Leaflet
METODE
1. Ceramah
2. Diskusi
KEGIATAN PEMBELAJARAN
No Waktu
Kegiatan Penyuluhan
Kegiatan Peserta
1 2 menit
Pembukaan :
1. - Memberi salam
2. - Menjelaskan tujuan penyuluhan
3. - Menyebutkan materi/pokok bahasan yang akan disampaikan
Menjawab salam
Mendengarkan dan memperhatikan
2 10 menit
Pelaksanaan :
- Menjelaskan materi penyuluhan secara berurutan dan teratur.
Materi :
Pengertian DBD
2. Tanda dan gejala DBD
3. Faktor Resiko DBD
4. Cara pencegahan penyakit DBD
5. Penanganan DBD
1.
Menyimak dan memperhatikan
3 5 menit
Evaluasi
- Menyimpulkan inti penyuluhan
- Menyampaikan secara singkat materi penyuluhan
- memberi kesempatan kepada responden untuk bertanya
- memberi kesempatan kepada responden untuk menjawab pertantanyaan yang dilontarkan
Menyimak, mengajukan pertanyaan, menjawab pertanyaan dari pemateri serta menyimpulkan materi yang dipahami.
4 2 menit
Penutup
- menyimpulkan materi yang telah disampaikan
- menyampaikan terima kasih atas perhatian dan waktu yang telah diberikan kepada peserta
- Mengucapkan salam
Menjawab salam
X. EVALUASI
Metode Evaluasi : Diskusi dan Tanya jawab
Jenis Pertanyaan : Lisan
Jumlah Soal : 5 soal
LAMPIRAN MATERI
a. Pengertian DBD
Demam Berdarah Degue (DBD) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Degue yang mengakibatkan demam dan bisa menimbulkan pendarahan dan berakibat fatal.
b. Penyebab DBD
Penyebab DBD adalah virus dengue yang sampai sekarang dikenal dengan 4 serotipe (Dengue-1, Dengue-2, Dengue-3, dan Dengue 4), termasuk dalam group B Arthropod Bone Virus (Arbovirus). Ke-empat serotipe virus ini telah ditemukan di berbagai di daerah Indonesia. Hasil penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa Dengue-3 sangat berkaitan dengan kasus DBD berat dan merupakan serotipe yang paling luas disribusinya disusul oleh Dengue-2, Dengue-1, dan Dengue-4.
c. Tanda dan Gejala DBD
Gejala awal demam berdarah tergolong luas dan mirip dengan infeksi virus pada umumnya, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, mual bahkan muntah. Beberapa mengeluh nyeri menelan dan terlihat tenggorokan memerah ( faring hiperemis, seperti pada radang tenggorokan) namun pada DBD jarang ditemukan batuk dan pilek.
Walau demikian ada beberapa gejala demam berdarah yang khas, yang patut diwaspadai, yaitu:
1. Demam tinggi mendadak 2-7 hari. Kadang kala demam bersifat bifasik (seperti pelana kuda), yakni panas akan turun di hari ke 3 atau ke 4 tetapi hari berikutnya naik lagi.
2. Ruam pada kulit
3. Nyeri di belakang mata
4. Manifestasi pendarahan , yang ditandai dengan;
A. Petekie , yakni bintik-bintik merah kehitaman pada kulit yang apabila kulit direnggangkan warna tetap terlihat. Inilah ciri khas bintik kulit pada DBD karena bintik merah akibat penyakit lain atau gigitan nyamuk akan tidak terlihat jika kulit direnggangkan.
b. Mimisan (epistaksis)
c. Muntah darah (hematemesis)
d. BAB berdarah biasanya bewarna hitam (melena)
d. Faktor resiko
Ada beberapa faktor resiko yang menjadi penyebab penyakit DBD, yaitu :
1.Resiko identitas larva,
2.kepadatan hunian,
3.ventilasi, dan
4.kelembaban rumah
E. Ciri-ciri DBD
1. Demam
2. Tanda-tanda perdarahan
3. Pembesaran hati (hepatomegali)
4. Renjatan (syok)
5. Trombositopeni
6. Hemokosentrasi
7. Gejala klinik lain
F. Komplikasi DBD
1. Hepatomegali
Sifat pembesaran hati :
- pembesaran hati pada umumnya dapat ditemukan pada permulaan penyakit.
- pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya penyakit.
- nyeri tekan sering ditemukan tanpa disertai ikterus.
2. Perdarahan
Perdarahan ini terjadi di semua organ. Bentuk perdarahan dapat hanya berupa uji Tourniquet (Rumple Leede) positif atau dalam bentuk satu atau lebih manifestasi perdarahan sebagai berikut : Petekie, Purpura, Ekimosis, Perdarahan Konjungtiva, Epistaksis, Pendaharan Gusi, Hematemesis, Melena dan Hematuri.
3. Trombositopeni
- Jumlah trombosit ≤100.000/μI biasanya ditemukan diantara hari ke 3-7 sakit.
- Pemeriksaan trombosit perlu diulang sampai terbukti bahwa jumlah trombosit dalam batas normal atau menurun.
- Pemeriksaan dilakukan pada saat pasien diduga menderita DBD, bila normal maka diulang tiap hari sampai suhu turun.
4. Gejala klinik lain
- Gejala klinik lain yang dapat menyertai penderita DBD ialah nyeri otot, anoreksia, lemah, mual, muntah, sakit perut, diare atau konstipasi, dan kejang.
- pada beberapa kasus terjadi hiperpireksia disertai kejang dan penurunan kesadaran sehingga sering di diagnosis sebagai ensefalitis.
- Keluhan sakit perut yang hebat sering kali timbul mendahului perdarahan gastrointestinal dan rejatan.
E. Cara pencegahan penyakit DBD
1. Minum yang cukup, jenis minuman yang bisa dikonsumsi adalah minuman elektrolit, diselingi minum sari buah-buahan (tidak harus jus jambu) dan ukur jumlah cairan yang keluar dan yang diminum .
2. Upayakan untuk makan dan istirahat yang cukup
3. Untuk perlindungan gunakanlah obat anti nyamuk yang mengandung DEET saat mengunjungi tempat endemik dengue.
4. Cegah perkembangbiakan nyamuk dan kenali tanda dan gejalanya.
5. Buang sampah pada tempatnya dan perbaiki tempat penyimpanan air untuk mencegah nyamuk berkembangbiak dengan menutup tempat penampungan, mengosongkan air tergenang dari ban bekas, kaleng bekas, dan pot bunga.
6. Pada pasien DBD tidak boleh diberikan asetosal, aspirin, antiinflamasi nonsteroid karena potensial mendorong terjadinya pendarahan.
7. Melakukan abatesasi tempat-tempat penampungan air untuk mencegah berkembangbiaknya nyamuk. Untuk abate yang ditaburkan kedalam bak tendon air, satu sendok makan abate untuk bak berukuran 1m x 1m x 1m atau dinding bak air sehingga kalau ada jentik, jentik akan mati.
F. Penanganan DBD di rumah dan di pelayanan kesehatan
Pasien DBD dapat berobat jalan, jika perlu dirawat. Pada fase demam pasien dianjurkan
1. Tirah baring, selama masih demam
2. Obat antipiretik atau kompres hangat diberikan apabila diperlukan.
3. Untuk menurunkan suhu menjadi < 39 derajat C, dianjurkan pemberian parasetamol. Asetosal/salisilat tidak dianjurkan (indikasi kontra) oleh karena dapat menyebabkan gastrisis, pendarahan, atau asidosis.
4. Dianjurkan pemberian cairan den elektrolit per oral, jus buah, sirop, susu, disamping air putih, dianjurkan paling sedikit diberikan selama 2 hari.
5. Monitor suhu, jumlah trombosit dan hematokrit sampai fase konvalesen.
G. Demonstrasi ttg kegiatan 3M
..........
Langganan:
Postingan (Atom)